Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif Kekerabatan

Abstrak. Masyarakat Baduy cenderung bertahan dari sistem pertanian berladang berpindah. Untuk bertahan mereka diikat oleh sistem pemerintahan yang mengatur kehidupan sosio-politik dan keagamaan. Pengaturan kehidupan keseharian warga masyarakat sepenuhnya di bawah kendali sistem pemerintahan yang bersandar pada pikukuh karuhun yang dikenal sebagai pamarentahan Baduy dengan ketiga puun sebagai pucuk rujukan mereka yang berkedudukan di tiga daerah tangtu, yaitu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendeskripsi dan menerangkan bagaimana pranata kepemimpinan yang disimpulkan melalui pamarentahan Baduy berperan mengendalikan warga masyarakatnya bertahan dari pelbagai pengaruh. Pendekatan kekerabatan digunakan untuk menggambarkan penelitian ini yang dilakukan melalui pengumpulan data etnografi. Praktek kepemimpinan ketiga puun masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda sesuai dengan kedudukan dan perannya dalam hirarki kekerabatan. Puun Cibeo yang dihubungkan oleh garis keturunan yang paling muda bertindak sebagai pemimpin politik yang berperan mengatur warga masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup duniawi dan Puun Cikeusik yang ditentukan oleh garis keturunan yang paling tua berperan memimpin agama dalam rangka mewujudkan dan mempertahankan identitas budaya, sedangkan Puun Cikartawana kedudukannya di antara kepemimpinan agama dan politik.

kata kunci: Pamarentahan Baduy, Kekerabatan

PAMARENTAHAN BADUY IN KANEKES: KINSHIP PERSPECTIVE

Abstract.  The Baduy people nowadays still uphold the slash and burn agriculture besides their folk believes to survive amongs the modern life They were managed by such tradition like sociopolitical management that controls their attitudes. Every single daily life has been controlled by pikukuh karuhun tradition that already known as well as pamarentahan Baduy with three chiefdomains : Cibeo, Cikartawana and Cikeusik. The research has developed to describe and explained how the institution leader through pamarentahan objective that Baduy’s roles in controlling on community. It is believed that situation could contrains outside world influence. Ethnographic approach was used for this research to collect data. Those three puun leaderships have different function to control the community with its characteristics in their hierarchical kinship. Puun Cibeo is related to be highest kin line relation and roles as political leader to suit daily activities. Puun Cikeusik roles as the highest leader on folk believes to protect cultural identity. On the other hand, Puun Cikartawana roles as mediator of both Puuns as well as political and religious leader.

Keywords : Pamarentahan Baduy, Kinship

 

PENDAHULUAN

Kompleksitas kepemimpinan direproduksi oleh masyarakat dalam dimensi material, psikologis dan sosial, karena berhubungan dengan tindakan dan kekuasaan. Dalam konteks itu, tindakan dan kekuasaan berfungsi mengatur kehidupan sosial yang diwujudkan oleh masyarakat melalui sikap kepatuhan dan ketaatan. Seperti diterangkan oleh Ernest Brandewie (2000), bagaimana konsep kepemimpinan pada masyarakat Hagen di Dataran Tinggi Tengah Nugini dioperasional berdasarkan kekerabatan. Atau, konsep Berthe (2000), tentang oposisi dalam sistem kekerabatan Orang Baduy yang diwujudkan dalam organisasi sosial.

Berdasarkan kedua konsep kepemimpinan dalam konteks kekerabatan tersebut, mencerminkan ketaatan dan kepatuhan pengikut menjadi pangkal utama berlangsungnya proses kepemimpinan. Sebagai imbalan dari ketaatan dan kepatuhan pengikutnya seorang pemimpin menunjukkan dirinya mampu memenuhi kebutuhan sosio-religius warga masyarakatnya.

Hubungan antara pemimpin dan pengikut dijalin melalui ikatan kekerabatan dengan merujuk pada garis keturunan yang paling tua dan garis keturunan yang paling muda dalam terminologi kekerabatan. Putaran kekerabatan serupa itu oleh Berthe disebut sebagai oposisi dalam kekerabatan yang diwujudkan dalam organisasi sosial atau pengaturan kehidupan sosio-budaya masyarakat Baduy.

Dalam konteks itu, masyarakat Baduy hingga kini masih terus bertahan dari pelbagai pengaruh luar baik agama maupun teknologi pertanian yang sederhana sekalipun. Untuk bertahan mereka diikat oleh sistem pemerintahan yang bukan hanya mengatur kehidupan sosio-politik tetapi juga keagamaan. Sistem pemerintahan modern yang ditampilkan melalui pemerintahan desa memang turut mewarnai kehidupan sosio-politik mereka.

Namun peran yang dikesankan dari keberadaan institusi tersebut sebatas sebagai penghubung dengan dunia luar, sedangkan pengaturan kehidupan keseharian warga masyarakat sepenuhnya di bawah kendali sistem pemerintahan yang bersandar pada pikukuh karuhun yang dikenal sebagai pamarentahan Baduy. Dalam pamarentahan itu ketiga puun berperan sebagai pucuk pimpinan mereka yang berkedudukan di tiga daerah tangtu, yaitu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.

Dalam praktek kepemimpinan ketiga puun mempunyai fungsi yang berbeda sesuai dengan kedudukan dan peranannya masing-masing dalam hirarki kekerabatan. Dalam kedudukan ini Puun Cibeo berfungsi sebagai pemimpin politik yang dihubungkan oleh garis keturunan yang paling muda dan Puun Cikeusik berfungsi sebagai pemimpin agama yang ditentukan oleh garis keturunan yang paling tua, sedangkan Puun Cikartawana kedudukannya di antara kepemimpinan agama dan kepemimpinan politik. Kekuasaan agama dihubungkan dengan karuhun untuk mewujudkan identitas budaya, lain halnya kekuasaan politik dihubungkan dengan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup duniawi.

Bertolak dari kenyataan tersebut, penelitian ini untuk menjawab bagaimana pamarentahan Baduy yang didasarkan pada pikukuh karuhun dapat berperan mengendalikan warga masyarakat Baduy. Untuk mengungkapkan sistem pamarentahan dilakukan melalui pendekatan kekerabatan dengan bersandar pada syarat-syarat hirarki kekerabatan dan pengaturan perkawinan seperti yang diajukan oleh Geise (1952) dan Berthe (2000) tentang oposisi antara kakak dan adik yang dapat mewujudkan hubungan individu dalam satuan kekeluargaan.

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplanasi pranata kepemimpinan masyarakat Baduy dalam mempertahankan pikukuh karuhun dan mengatur serta mengendalikan warga masyarakatnya.

Berdasarkan tujuan tersebut, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi teoretis terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya antropologi sosial yang terkait dengan pemahaman teori kepemimpinan dan kekerabatan.

TINJAUAN PUSTAKA

Karya etnografi Baduy sejak jaman kolonial hingga kemerdekaan Indonesia telah dihasilkan para antropolog, di antaranya yang hingga kini menjadi andalan untuk para pengkaji masyarakat dan kebudayaan Baduy, adalah karya N.J.C. Geise yang tertuang dalam disertasinya, berjudul ‘Badujs en Moslims in Lebak Parahiang, Zuid Banten’ (1952). Karya Judistira K. Garna, yang tertuang dalam disertasi berjudul ‘Tangtu Telu Jaro Tujuh Kajian Struktutal Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia’ (1988), dan bukunya yang berjudul ‘Orang Baduy’ (1987).

Karya etnografi yang dikemukakan oleh Geise dan Judistira Garna merupakan telaah yang mendalam pada dua jaman yang berbeda. Meski karya Geise diterbitkan tahun 1952 penelitiannya itu sendiri dilakukan pada tahun 1930-an. Artinya, penggambaran etnografi Baduy oleh Geise dalam perspektif pemerintahan kolonial berlangsung. Sedangkan, karya Judistira Garna, merupakan penggambaran masyarakat dan kebudayaan Baduy pada masa Indonesia pasca kemerdekaan termasuk di dalamnya pada masa Orde Baru berkuasa. Tentunya, penggambaran Etnografi Garna tidak dapat dilepaskan dari situasi Indonesia ketika itu. Nuansa pembangunan perdesaan yang diwujudkan melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1979 tentang pemerintahan desa memberikan makna tersendiri bagi kehidupan Orang Baduy.

Sistem kekerabatan Orang Baduy merupakan referensi atau kerangka acuan yang penting dalam menentukan dengan siapa seorang ‘ego’ dapat berhubungan dan bekerja sama dalam berbagai bidang kehidupan seperti sosial, ekonomi dan keluarga. Kelompok-kelompok kekerabatan dalam kehidupan mereka terwujud dalam bentuk ketetanggaan ladang (huma), dan satuan permukiman atau kampung. Dalam konteks itu, sebuah satuan kekerabatan menguasai kehidupan sebuah tangtu atau kesatuan teritorial, seperti kelompok kekerabatan tangtu Cikeusik menguasai kesatuan kerabat Cikeusik, demikian juga tangtu Cibeo menguasai kesatuan kerabat Cibeo dan kekerabatan tangtu Cikartawana menguasai kesatuan kerabat Cikartawana.

Landasan utama berfungsinya sistem kekerabatan adalah penggunaan istilah-istilah kekerabatan. Istilah kekerabatan atau kinship dalam tulisan ini mengacu pada sejumlah status (posisi atau kedudukan sosial), dan saling hubungan antarstatus sesuai dengan prinsip-prinsip budaya yang berlaku (Marzali, 2000). Selanjutnya menurut Amri Marzali, prinsip hubungan kekerabatan ini terutama digunakan untuk:

  • menarik garis pemisah antara kaum-kerabat (kin) dan bukan kaum-kerabat (nonkinkin);
  • menentukan hubungan kekerabatan seseorang dengan yang lain secara tepat;
  • mengukur jauh/dekatnya hubungan kekerabatan seseorang dengan yang lain; dan
  • menentukan bagaimana seseorang harus berperilaku terhadap seseorang yang lain sesuai dengan aturan-aturan kekerabatan yang disepakati bersama.

Bagi Orang Baduy prinsip tersebut, tidak dapat dilepaskan dari lokasi permukiman atau kampung tempat di mana mereka bertempat tinggal. Karena itu, menurut Garna (1987:74), hubungan kekerabatan dengan lokasi kampung dapat mengukur jauh dan dekatnya hubungan kekerabatan seseorang dengan yang lain serta bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan aturan-aturan kekerabatan.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi, atau cara serupa itu oleh Yunita T. Winarto (1999), disebut sebagai pendekatan prosesual untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan kebudayaan. Data kebudayaan dihimpun adalah kelakuan, tata kelakuan dan hasil kelakuan pada masyarakat Baduy. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah pengamatan untuk menjawab apa dan bagaimana mereka melakukan aktivitas kehidupan, sedangkan teknik pengumpulan data melalui wawancara digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa mereka melakukan sesuatu itu yang terkait dengan sistem kekerabatan dalam kerangka pamarentahan Baduy.

Informan dalam penelitian ini, adalah mereka yang terkait dengan struktur pamarentahan Baduy, juga mereka yang menjadi memegang kendali religi dalam pelbagai kegiatan ritual. Selain itu, juga informan dari pemerintahan desa, seperti kepada desa (Jaro Pamarenah), carik desa, dan pangiwa.

Analisis data dilakukan dengan interpretasi melalui pendekatan thick description (Geertz, 1973; Ninuk P. Kleden, 1999). Atau disebut pula ‘deskripsi mendalam’ sebagai upaya pengalihan makna wacana dari wacana sosial ke dalam bentuk wacana tertulis. Proses pengalihan makna tersebut berlangsung dari suatu bentuk deskripsi simbolik berupa konsep kekerabatan yang berlaku pada masyarakat Baduy ke dalam bentuk hubungan sosial.

HASIL PEMBAHASAN

Desa Kanekes adalah salah satu desa di Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Propinsi Banten, seluas 5.101,85 hektar, sebagai dataran tinggi yang bergunung dengan lembah-lembah yang merupakan daerah aliran sungai dan hulu-hulu sungai yang mengalir ke sebelah utara. Bagian tengah dan selatan desa merupakan hutan lindung atau Orang Baduy sering menyebutnya hutan tutupan.

Pada tahun 1888 Orang Baduy berjumlah 291 orang yang tinggal di 10 kampung, sedangkan tahun berikutnya meningkat menjadi 1.407 orang yang tinggal di 26 kampung (Jacobs, Meijer, 1891; Pennings,1902), tahun 1928 berjumlah 1.521 orang (Tricht, 1929), kemudian tahun 1966 meningkat lagi menjadi 3.935 orang. Awal tahun 1980 penduduk Desa Kanekes menjadi 4.057 orang, sepuluh tahun kemudian berjumlah 5.600 orang dan tahun 1999 menjadi 7.000-an orang (Kartawinata, 2000). Tentunya, dari keadaan itu menuntut penyediaan lahan untuk permukiman semakin bertambah, dari pelbagai catatan dapat diketahui pertambahan jumlah kampung, seperti pada Tabel Perkembangan Kampung Baduy Tahun 1891 – 2000.

Pertambahan jumlah kampung di Desa Kanekes itu menunjukkan lahan garapan mereka semakin didesak oleh keperluan lahan untuk penyediaan permukiman.Tentunya, keadaan itu pun mengakibatkan dalam sistem perladangan mereka yang dikenal sebagai slash and burn lajunya semakin dipercepat dari masa 7 tahun menjadi 3 tahun pada satu lokasi huma yang sama dengan percepatan penggarapan itu menimbulkan akibat tingkat kesuburan tanah semakin berkurang.

Tabel: Perkembangan Kampung Baduy Tahun 1891 – 2000

 

Tahun

Kampung

Jumlah

Tangtu

Panamping

Dangka

1891

3

1

5

9

1929

3

7

7

17

1952

3

21

7

31

1975

3

30

3

36

1986

3

37

3

43

1996

3

47

3

53

2000

3

50

3

56

 

Sumber: J. Jacobs dan J.J. Meijer (1891); B. van Tricht (1929); N.J.C. Geise (1952); J. Garna (1988); dan Kartawinata (2001).

Asal Usul dan Sebutan. Asal-usul mereka dicatat dalam ingatan dari generasi ke generasi dalam cerita tentang karuhun. Bagi Orang Baduy, yang melihat tentang catatan waktu ialah segala peristiwa dalam kehidupan masyarakatnya, proses waktu merupakan perjalanan riwayat dunia yang setara dengan keadaan alam semesta.

Pembakuan sebutan Badawi, Badoeien, Badoei dan Bedoeis oleh orang-orang Belanda seringkali ditunjang pula oleh laporan-laporan resmi para pejabat pemerintahan kolonial. Karena itu, ada pula kemungkinan bahwa kata Badoeis, Bedoeis dikaitkan dengan kata badwi kelompok masyarakat Arab yang hidup secara nomaden di gurun pasir. Namun menurut Pleyte (1909), kata Baduy tidak ada kaitannya dengan kata Badwi, tetapi semata-mata nama Baduy yang berasal dari kata Cibaduy, nama sungai di sebelah utara Kanekes. Itu artinya, untuk menyebut diri sendiri memang merupakan salah satu kebiasaan masyarakat Sunda menyebut nama kampung atau tempat bermukim, tempat dilahirkan atau tempat yang dapat memberikan arti penting dalam kehidupannya. Sehubungan dengan itu, tidaklah mengherankan apabila sebutan urang Kanekes dipakai pula oleh mereka, sebagai sebutan yang menekankan hakekat dan nilai budayanya.

Kampung dan Ikatan Kerabat. Untuk melihat kekerabatan orang Baduy, lokasi tempat tinggal mereka dianggap penting. Lokasi permukiman itu menentukan pada kedudukan mana terletak seseorang sebagai keturunan para Batara. Selain itu, dapat pula dipahami berbagai sistem sosial lainnya seperti perkawinan, pola tempat tinggal sesudah kawin, penempatan rumah di kampung yang dapat memberikan gambaran tentang kekerabatan dan kedudukannya dalam masyarakat.

Hubungan antara sistem kekerabatan dan lokasi kampung dapat dilihat dari tiga sisi, yaitu: pertama tentang kampung tangtu; kedua, kampung panamping; dan ketiga pajaroan. Tentang hal itu, ekpresi orang Baduy menyatakan seluruh wilayah Desa Kanekes adalah tangtu teulu jaro tujuh.

Prinsip kekerabatan dalam konteks Orang Baduy sebagaimana ditunjukkan oleh N.J.C. Geise (1952), tidak menyimpang dari model klasik yang dibuat oleh van Wouden (1935), untuk beberapa masyarakat Indonesia Timur. Menurutnya, ada beberapa perubahan yang terjadi disebabkan isolasi yang dilakukan Orang Baduy sendiri. Model van Wouden berdasarkan perkawinan asimetris (asymetric connumbium), dan garis keturunan (double descent) serta preferensi perkawinan antarsepupu (cross-cousins marriage) dengan kedudukan yang utama untuk saudara laki-laki dari pihak ibu.

Temuan Geise tentang sistem kekerabatan Orang Baduy yang sebagaimana model Van Wouden itu dibantah oleh Berthe, sebab ia menganggap bahwa model klasik yang diajukan itu hampir tidak bisa dipakai untuk menelaah kekerabatan Orang Baduy. Kalau bisa dipakai pun, seharusnya akan diperoleh sesuatu istilah untuk saudara laki-laki dari pihak ibu di dalam terminologi kekerabatan Orang Baduy. Dalam kenyataannya Geise tidak menyebutkan istilah itu. Namun begitu, Berthe berdasarkan kekerabatan Orang Baduy mengidentifikasi atas sesuatu sifat yang khas Orang Sunda, yaitu perlawanan (oposisi) antara kakak dan adik.

Dari perlawanan itu ada kecenderungan yang dianggap paling baik bagi perkawinan anak laki-laki yang pertama (kakak) dari suatu garis keturunan dengan anak perempuan yang terakhir (adik) dari garis keturunan yang lain. Kemudian hal yang dianggap penting dalam kaitan dengan ketentuan itu adalah adik tidak boleh melangsungkan perkawinan sebelum kakaknya melangsungkan perkawinan (ngarunghal). Dalam prakteknya pada Orang Baduy tidak terdapat perbedaan antara sepupu persamaan (paralel-cousins) dan antarsepupu (cross-cousins) (Garna,1987), sehingga ada kecenderungan dalam perkawinan itu terjadi dalam keluarga yang paling dekat, yang menurut Berthe (2000) dapat terjadi sampai dengan sepupu tingkat keempat. Atau, istilah Orang Baduy menyebut dengan baraya.

Kelompok Asal Keturunan. Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu, yaitu keluarga luas yang tinggal dalam satu kampung. Ada 3 kelompok kekerabatan dalam kesatuan, yaitu tangtu Cikeusik, tangtu Cikartawana dan tangtu Cibeo. Adapun hirarki kekerabatan itu sesuai dengan urutan dari yang paling tua ke yang paling muda, yaitu Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo.

Seluruh Desa Kanekes terbagi dalam dua wilayah penting, yaitu wilayah tangtu (sakral) dan wilayah panamping (profan). Hal itu, berpengaruh pada pembagian warga masyarakat Baduy dalam dua paroh masyarakat, yaitu tangtu dan panamping, menentukan posisi masing-masing dalam rangka suatu kesatuan masyarakat.

Peranan untuk saling mengendalikan dan mengawasi ditentukan oleh sistem pajaroan yang dibentuk serta dipimpin oleh tangtu atau tiga puun. Puun mengangkat seorang jaro, yaitu tanggungan jaro duawelas yang bertugas mengawasi para jaro, terutama para jaro di panamping dan dangka.

Pamarentahan di Kanekes. Dalam pamarentahan Baduy dikenal suatu sistem pemimpin yang meliputi sejumlah pejabat dengan sebutan sendiri-sendiri. Orientasi setiap pemimpin kepada pemimpin tertinggi, yakni para puun. Mereka dianggap satu kesatuan pemimpin tertinggi untuk mengatasi semua aspek kehidupan di dunia dan mempunyai hubungan dengan karuhun. Dalam kesatuan puun tersebut senioritas ditentukan berdasarkan alur kerabat bagi peranan tertentu dalam pelaksanaan adat dan keagamaan Sunda Wiwitan.

Puun memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang sangat besar, sehingga para pemimpin yang ada di bawahnya dan warga masyarakat Baduy tunduk dan patuh kepadanya. Berdasarkan konsep itu dalam menjalankan pemerintahannya, semua lingkup dan mekanisme kekuasaan tercakup dalam tiga tangtu dan tujuh jaro.

Dengan demikian, bagi orang Baduy seorang pemimpin dalam pamarentahan (jaro, girang seurat, tangkesan kokolotan, kokolot, dan baresan), berasal dari keturunan para puun yang artinya, satu sama lain terikat oleh garis kerabat. Dalam konteks itu, ciri penting dalam pamarentahan Baduy, terletak pada diferensiasi peran dan pembagian jabatan yang terpisahkan melalui struktur sosial, namun semuanya terikat oleh satu hubungan kerabat yang erat.

Perbedaan peran yang mendasar antara para pemimpin yang disebut puun dan yang disebut para jaro, adalah pada tanggung jawab yang berurusan dengan aktivitasnya, karena para puun berurusan dengan dunia gaib sedangkan para jaro bertugas menyelesaikan persoalan duniawi. Atau, dengan perkataan lain, para puun berhubungan dengan dunia sakral dan para jaro berhubungan dengan dunia profan. Oleh karena itu, para puun menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius, sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib.

Dalam situasi seperti itu warga masyarakat dituntut patuh memenuhi ketentuan pikukuh yang telah digariskan para karukun. Pelanggaran terhadap pikukuh berarti telah siap menerima hukuman berupa pengusiran dari daerah tangtu. Atau, bagi masyarakat panamping melanggar ketentuan itu berarti harus menangung kewajiban bekerja di huma puun, yang lamanya disesuaikan dengan berat ringannya pelanggaran.

Dalam pamarentahan Baduy, dimulai dari lingkungan rumah, yakni seorang kepala keluarga inti mengatur kehidupan para anggota keluarganya, termasuk pengawasan sosial terhadap aturan adat. Urusan dan pengaturan yang dilakukannya ialah membina kehidupan keluarga intinya, berhuma, hubungan dengan kaum kerabat, melakukan perhitungan untuk menentukan saat mulai menanam, bepergian, menyelenggarakan perkawinan, pengasuhan, pendidikan anak dan turut serta dalam berbagai upacara.

Pada tingkat kampung ada beberapa jenis pemimpin. Di dangka terdapat seorang pemimpin adat dan agama yang disebut jaro dangka. Ia meneruskan dan mengawasi ketentuan karuhun yang disampaikan melalui puun, dan ia juga dapat berkumpul di tangtu dalam upacara keagamaan. Selain itu, jaro dangka diharuskan turut serta dalam upacara membersihkan tangtu dari dosa yang ditinggalkan oleh si pelanggar.

Itu artinya, dalam pamarentahan Baduy, ada dua orang yang dituakan dalam kampung panamping namun berfungsi berbeda, yaitu: pertama, kokolotan lembur. Yang menjadi pemimpin pikukuh. Ia bertugas atas nama puun untuk mengawasi, mengatur, dan melaksanakan ketentuan puun. Kedua, kokolot lembur yang kedudukannya sejajar dengan ketua rukun kampung dalam sistem pemerintahan formal.

Pemimpin tangtu adalah jaro tangtu. Ia bertugas sebagai kokolotan lembur dan sekaligus pula bertindak sebagai kokolot lembur. Selain itu, ia pun harus turut serta seba ke ibukota kabupaten di Rangkasbitung dan keresiden Banten yang kini menjadi Gubernur di Serang.

Jaro tangtu diangkat menurut alur keturunan dari para jaro terdahulu, yang disiapkan oleh pikukuh langsung di bawah tangkesan dan pengawasan puun. Apabila calon jaro tangtu dianggap siap, walaupun ia masih muda, ia dapat diangkat.

Dalam pamarentahan Baduy, istilah jaro banyak digunakan. Arti kata jaro sendiri adalah ketua kelompok atau pemimpin. Pada tingkat panamping terdapat seorang jaro yang tidak hanya mengurus dan mengatur seluruh jaro, tetapi juga berkuasa mutlak sebagai pengawas serta pelaksana tertinggi pikukuh di panamping. Dari keduabelas jaro, yaitu tiga jaro tangtu, tujuh orang jaro dangka, seorang jaro warega, dan seorang jaro pamarentah, maka ia adalah koordinator kerja para jaro yang dalam pamarentahan Baduy dikenal dengan sebutan jaro duawelas. Jaro warega berperan dalam upacara keagamaan, terutama untuk persiapan dan pelaksanaan seba, tetapi pada posisi pimpinan dalam Sunda Wiwitan, ia adalah pembantu utama tanggungan jaro duawelas.

Jaro pamarentah, adalah jaro Kanekes, kepala desa yang pengangkatannya disetujui oleh kedua belah pihak, para puun dan pemerintah daerah. Acuan ke atas juga dua yaitu puun dan camat. Karena itu seorang jaro pamarentah merupakan pengimbang di antara kedua kategori pemimpin itu, yang dengan penuh bijaksana harus mampu melaksanakan semuanya. Masa kerja seorang jaro pamarentah tergantung dari lamanya dan sejauh mana ia mampu melaksanakan kebijaksanaan pengimbang dimaksud. Jaro pamarentah dibantu oleh paling tidak tiga orang pembantu utama, yaitu carik adalah juru tulis desa yang selalu berasal dari luar Kanekes, dan dua orang pangiwa, pembantu jaro pamarentah yang berasal dari panamping.

Pada tingkat tangtu terdapat tiga puun, yang tidak hanya menjadi pemimpin agama dan adat tertinggi di kampung tangtu, tetapi juga untuk seluruh Kanekes. Semua pemimpin bawahan termasuk jaro pamarentah harus tunduk kepada mereka. Puun dalam menjalankan aktivitasnya dibantu oleh sejumlah pejabat adat dan agama. Pejabat adat dan agama tertinggi yang berfungsi sebagai penasihat ialah tangkesan yang juga disebut dukun putih. Ia biasanya berasal dan berkedudukan di kampung Cikopeng. Dukun-dukun pada tingkat kampung lainnya selain berada di bawah pengawasan puun juga diamati oleh tangkesan.

Puun mempunyai staf yang lengkap, seperti seurat atau girang seurat yang menjadi pembantu puun untuk berbagai hal. Jabatan seurat hanya ada di Cikeusik dan Cibeo, tetapi tidak ada di Cikartawana. Jaro tangtu membantu seurat dan puun secara langsung. Penyampaian berita dan lain-lainnya dilakukan oleh pembantu umum. Jumlahnya tergantung dari kekerapan kerja, upacara dan pelaksanaan pikukuh. Semacam dewan penasihat puun terdapat di setiap kampung tangtu, yang disebut baresan (barisan, dewan atau kumpulan) atau sering disebut baresan salapan, karena terdiri dari sembilan orang tokoh, termasuk jaro tangtu, seurat dan lainnya. Fungsi baresan adalah membantu puun dan jaro tangtu memecahkan berbagai masalah dan melaksanakan pikukuh.

struktur-baduy-copy

 

GAMBAR: STRUKTUR PAMARENTAHAN BADUY

Dengan demikian seorang puun didukung oleh panasihat batin melalui tangkesan dan penasihat pelaksanaan pikukuh oleh baresan salapan. Pengawasan para puun mampu menjangkau wilayah dan seluruh warga Kanekes melalui tanggungan jaro duawelas dan dukun-dukun lembur serta kokolotan lembur.

Dalam konteks itu, pamarentahan Baduy berfungsi untuk mensucikan dan membuat tapa dunia, termasuk memelihara alam sebagai pusat dunia, sedangkan dunia beserta isinya dijaga oleh keturunan muda, dan sultan-sultan Banten yang harus membuat dunia ramai.seorang pemimpin agama dihubungkan dengan garis keturunan yang paling tua, sedangkan seorang pemimpin politik dihubungkan dengan garis keturunan yang paling muda. Kekuasaan agama dihubungkan dengan para leluhur atau karuhun dan kekuasaan politik dihubungkan dengan aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Itu artinya, seorang pemimpin agama mewujudkan identatis masyarakat Baduy, sedangkan seorang pemimpin politik mengurus kehidupan duniawi termasuk mengurus dan memelihara kelestarian tanah.

Untuk melangsungkan aktivitasnya itu, kegiatan duniawi dipusatkan di tangtu Cibeo, sedangkan aktivitas keagamaan berada di tangtu Cikeusik. Namun tangtu dalam menjalankan aktivitasnya itu saling menyokong dan sekaligus saling terikat. Karena diantara keduanya saling memberikan pengaruh untuk mengokohkan tradisi Baduy yang bersandar pada pikukuh karuhun, yaitu: ‘nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun’. Artinya, yang bukan harus dikatakan bukan, yang benar harus dikatakan benar dan yang dilarang harus dikatakan dilarang.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa dalam pamarentahan Baduy seorang pemimpin dipilih dari kelompok keluarga tertentu yang memang telah memiliki alur keturunan pemimpin, sekalipun demikian bukan berarti masyarakat menyerahkan rekruitmen kepemimpinan kepada keberuntungan atau nasib. Jadi rekruitmen kepemimpinan dalam hirarki pamarentahan Baduy diambil dari bagian sangat kecil dari seluruh warga masyarakat.

Usia dalam penentuan pemimpin tidak menjadi hal yang utama atau menjadi penghalang seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Ukuran utama yang menjadi sandaran adalah setiap individu Orang Baduy cenderung menilai setinggi mungkin keluarga dan garis keturunan pemimpin.

Dalam konteks itu, kelompok-kelompok keturunan satu garis kekerabatan (unilineal), menawarkan proposisi, bahwa struktur politik dalam pamarentahan Baduy selalu stabil dan dalam banyak hal persaingan internal yang mungkin timbul dari perpecahan di antara garis-garis keturunan dapat dihindarkan dengan adanya pembagian kewenangan yang didasarkan atas ikatan-ikatan kewilayahan yang berkoeksistensi dengan hubungan-hubungan kekeluargaan.

Strategi dalam pamarentahan Baduy untuk melanggengkan kekuasaan dan kestabilan tradisi yang berpijak pada pikukuh didasarkan landasan afiliasi kekeluargaan dan ikatan-ikatan kewilayahan. Dalam pamarentahan serupa ini, struktur yang dibentuk semata-mata untuk menegakkan ketertiban sosial agar pengukuhkan ikatan wilayah lebih erat. Pemisahan yang berlangsung hanya sebatas kewilayahan (kampung-kampung), namun pemisahan itu kemudian tercakup oleh sistem pertalian keluarga yang kuat.

Peranan ketiga puun dan jaro tujuh yang terlingkup dalam sistem kekerabatan pada dasarnya berhubungan dengan sentralisasi kewenangan. Oleh karena itu, sebagai penutup tulisan ini dapat dinyatakan bahwa suatu sistem kekerabatan yang kuat, sementara hal-hal lainnya setara, berkorelasi dengan suatu sistem politik yang lemah mewujudkan spresialisasi kewenangan yang terpusat di kampung tangtu, baik spesialisasi keagamaan maupun politik, seperti ditunjukkan oleh peranan puun Cikeusik dan puun Cibeo untuk mengekalkan keyakinan Sunda Wiwitan bagi masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brandewie, E. 2000. Tempat Orang Besar dalam Masyarakat Hagen Tradisional di Dataran Tinggi Tengah Nugini. Dalam Frank McGlynn dan Arthur Tuden. 2000. Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. Terjemahan Suwargono dan Nugroho. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal. 85 – 112.

Berthe, Louis. 2000. Kekerabatan, Kekuasaan dan Cara Berproduksi. Terjemahan Judistira K. Garna. Bandung: Primaco Akademika.

Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda. 1985. Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung Proyek Sundanologi, Dep. Pendidikan & Kebudayaan R.I.

Eggan Fred. 1966. The American Indian. Chicago.

Frank McGlynn dan Arthur Tuden. 2000. Pendekatan Antropologi pada Perilaku Politik. Terjemahan Suwargono dan Nugroho. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Garna, Judistira K. 1987. Orang Baduy. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia. Garna, Judistira K. 1988. Tangtu Telu Jaro Tujuh Kajian Struktutal Masyarakat baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia. Tesis Ph.D. Universiti Kebangsaan Malaysia.

Geertz, C. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Geise, N.J.C. 1952 Badujs en Moslims in Lebak Parahiang, Zuid Banten. Disertasi. Leiden.

Jacobs, J. dan J.J. Meijer. 1891. De Badoej’s. ‘s-Gravenhage: Martionus Nijhoff.

Kartawinata, A.M. 2001. Pamarentahan Baduy di Kanekes. Makalah Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia. Padang: UI-Universitas Andalas, 18 – 20 Juli.

Ninuk P. Kleden. 1999. Metode Pemahaman bagi Penelitian Antropologi. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia. Th. XXIII, No. 60. Sept – Des. Jakarta: Universitas Indonesia-Yayasan Obor Indonesia. Hal. 36 – 49.

Marzali, Amri. 2000. Dapatkah Sistem Matrilinear Bertahan Hidup di Kota Metropolitan?. Dalam Antropologi Indonesia. Th. XXIV, No. 61 Jan-Apr. Jurusan Antropologi FISIP – Universitas Indonesia. Hal. 1 – 15.

Pleyte, C.M. 1910. Badoejsche geesteskinderen. Tijdschrift voor Bataviaschap, deel 54, afl. 2, 3-6.

Yunita T. Winarto. 1999. Pendekatan Prosesual: Menjawab Tantangan dalam Mengkaji Dinamika Bdaya. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia. Th. XXIII, No. 60. September–Desember .Jakarta: Universitas Indonesia-Yayasan Obor Indonesia. Hal. 25-35.


Sebutan yang dikemukakan Prof. Dr.R.M.Koentjaraningrat terhadap karya Prof.H.Judistira K. Garna, Ph.D. sebagai karya etnografi yang berfokus teori fungsional (Lihat Buku Baduy dari inti jagat, Bentara Budaya 1988) untuk kajian masyarakat dan kebudayaan Baduy.

***Ade Makmur Kartawinata

Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lemlit Unpad, Staf pengajar pada Jurusan Antropologi Sosial FISIP – Unpad.

2 Komentar to “Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif Kekerabatan”

  1. Assalamualaikum Pak Ade…saya Helmy, staf Lembaga Penelitian IAIN Banten. Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang Etika Lingkungan Hidup Orang Baduy. Beberapa sumber rujukan sudah saya peroleh, termasuk hasil penelitian bpk yang saya peroleh dari perpustakaan LIPI. Tetapi, saya masih merasa ada yang kurang, yaitu disertasinya Prof. Judistira K. Garna. Jika bpk berkenan, saya mohon disambungkan dengan beliau. atau, jika tidak keberatan dan jika bapak Ade sudah memiliki, saya ingin meng-copy disertasi beliau. mohon maaf & terima kasih

    Helmy Faizi Bahrul Ulumi
    Lembaga Penelitian IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten
    H.P. 0817 xxxx xxx
    email: helmyfaizi_banten@xxxxxx.xxx

    • Admin :
      Yth. Bpk. Helmi Faizi, comment telah kami foreward ke email Bpk. Ade MK. dan telah direply via japri. Terima kasih atas partisipasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: