Urbanisasi Pengalaman Kota Bontang: Penduduk Asli Berperan Atau Terpinggirkan

Abstrak. Bontang dahulu hanyalah sebuah kampung kecil yang dihuni oleh beberapa kumpulan keluarga orang Kutai dan orang Bajau. Hubungan sosial-ekonomi keduanya berlangsung secara harmonis, karena didasarkan oleh hubungan sosial paguyuban atau gemeinschaff. Namun ketika tahun 1970-an dengan ditumbuhkannya industri LNG (Liquefield Natural Gas) yang diproduksi oleh PT. Badak NGL, dan kemudian dibangun pula industri Pupuk Kalimantan Timur (PKT), mulai terjadi perubahan besar. Kegiatan di kedua industri ini, telah mengundang banyak pendatang yang beraktivitas baik sebagai pekerja pada kedua industri itu, maupun mereka yang beraktivitas sebagai pedagang, pegawai negeri dan swasta.

 Bontang kini, adalah salah satu kawasan perkotaan di pesisir Kalimantan Timur tempat berlangsungnya proses diferensiasi kerja yang sangat cepat, yang juga dihuni oleh masyarakat majemuk yang terdiri dari pelbagai etnik, seperti Bugis, Banjar, dan Jawa. Dalam konteks hipotesis kebudayaan dominant menunjukkan bahwa hubungan antaretnik di Kota Bontang tidak berasaskan pada satu kekuatan kebudayaan sebagai kekuatan yang dapat mengendalikan keteraturan sosial, melainkan lebih didasarkan kepada adanya tawar menawar kekuatan sosial yang dihasilkan dari proses interaksi sosial dalam hal pemenuhan ekonomi. Untuk itulah makalah ini, hendak membincangkan dan menjawab soalan-soalan, apakah hubungan antaretnik yang berlaku di Kota Bontang ini dapat mencapai kesefahaman dalam perspektif kebudayaan urbanisasi? Apakah pula kesefahaman itu wujud di tengah-tengah realitas di mana setiap kaum menciptakan dan memantapkan batas-batas sosialnya sebagai bagian dari pengukuhan identitas etnik, tanpa menimbulkan konflik? Kemudian hendak diungkapkan pula mengenai apakah penduduk asli, yakni orang Kutai Guntung dan Orang Bajau berperan dalam urbanisasi atau bahkan menjadi terpinggirkan.

Urbanization A Case Of Bontang: The Native People Participation Involvement or Fade Away

Abstract. In the past Bontang was reconised as a small village that was resided by several family gatherings of Kutai and Bajau people. Socio-economic interaction between two community groups was harmmony. Because they owened special social interaction that is named paguyuban or gemeinschaff. However, because in this area it had been established Liquiefiel Natural Gas (LNG) produced by PT. Badak NGL since 1970s. Moreover, it has also been established fertilizer industry, Pupuk Kalimantan Timur (PKT). As a result, some socio-economic aspects of the native people have dramatically changed. Both industries have attracted many migrants who have involved in jobs or involved in trading, civil serpants, and private sectors.
Nowadays, Bontang is recognised as one of the developed towns in the sea shore of East Kalimantan. The differentation of various jobs have rapidly grown in this town. In addition, this area has been resided by multi-ethnics, such as Bugese, Banjar, and Javanese. Based on dominant culture hypothese context, it has shown that interact with among inter-ethnic in Bontang town that is not based on one cultural strengthness as a power that can manage social order. However, it has been based on more social order bargaining which is resulted of social interaction in which providing socio-economic fulfill achievement. This paper, therefore, would like to discuss and answer some questions, namely could the interaction of inter-ethnic at Bontang town to be obtained in mutual understanding in the urbanization cultural perspective?. What is the  mutual undertanding which has been achieved could not arrised some conflicts due to each ethnic has established socio-cultural border as part of ethnic identity establishment?. Could the Kutai Guntung and Bajau people participate in urbanization or could be faded away?

 

Key words: urbanization, inter-ethnic interaction, social order,Kutai Guntung,  Bajau People, Bontang

1. Pengantar
Persoalan-persoalan urbanisasi seperti juga yang menjadi persoalan umum di negara-negara berkembang, atau dunia ketiga, adalah perkotaan sering dipandang dari dua arah yang saling bertentangan dalam hubungannya dengan kawasan perdesaan. Itu artinya, di satu arah kota diakui sebagai faktor utama dalam pembaharuan yang dapat menjadi penyebab kemajuan kawasan perdesaan. Di lain arah kota dianggap sebagai enclave yang gemerlap yang dihuni oleh mereka yang serba berkelebihan baik dari segi ekonomi maupun status sosial sehingga mendorong kuat penduduk desa-desa seputar perkotaan tertarik ke kota tanpa menghiraukan persoalan-persoalan yang wujud di perkotaan.
Pandangan serupa itu dari penduduk desa terhadap perkotaan, sangatlah wajar dan mudah dimaklumi, karena fungsi kawasan perdesaan sebagai daerah pertanian. Sebaliknya para elit di perkotaan menjadikan perkotaan berfungsi sebagai pusat kegiatan pengaturan negara atau pemerintahan, pusat perdagangan, industri dan bahkan kegiatan jasa yang kadangkalanya berskala nasional ataupun internasional. Menurut, Evers dan Korff (2002), keadaan kota serupa ini adalah sebuah pemusatan penduduk di dalam wilayah yang sempit.
Lantaran itu, para migran sebutan bagi pendatang ke kawasan perkotaan, seringkali pula dianggap sebagai beban kewilayahan atau ruang perkotaan dan sekaligus beban ekonomi kota. Dalam kaitan dengan beban ruang itu, penambahan fasilitas dan lapangan kerja baru yang disediakan di perkotaan akan selalu tidak seimbang dengan penambahan penduduk. Itu berarti, pola ruang atau tata ruang perkotaan yang sudah ditetapkan pemerintah kota menjadi tidak beraturan karena para pendatang akan menghuni kawasan di wilayah perkotaan dengan tidak beraturan. Demikian pula halnya dengan ekonomi perkotaan yang selalu menjadi permasalahan yang sepertinya tidak pernah dapat diatasi. Permasalahan ekonomi perkotaan ini seolah-olah berjalan berasingan antara pihak pemerintah kota dan mereka yang memerlukan lapangan pekerjaan, dengan jumlah yang selalu lebih besar dibanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.
Dalam konteks ketidakseimbangan lapangan kerja itu di kawasan perkotaan, Evers menyebutnya sebagai involusi kota. Sebutan yang pernah dikenalkan oleh Clifford Geertz, sebagai padanan dari involusi pertanian yang berkaitan dengan masalah pertanian dan ketersediaan tanah di Pulau Jawa. Boleh jadi, apa yang dimaksudkan Evers dengan involusi kota tampak serupa dengan keadaan kemiskinan di perkotaan yang diakibatkan oleh kemajuan ekonomi yang semakin meningkat pada satu pihak dan meninggalkan tekanan ekonomi pada pihak lainnya.
Dengan demikian, involusi kota merupakan perwujudan struktur keterbelakangan perkotaan, sehingga kota yang dikenal dalam tulisan-tulisan para pengagum kemajuan kota yang menyatakan sebagai pusat perubahan peradaban mulai diragukan kebenarannya. Paling tidak ada dua alasan yang dapat dijadikan pembenaran, bahwa kota bukan lagi pusat peradaban pertama sebagian besar kota-kota bermula sebagai kota-kota baru yang diwujudkan oleh penjajahan dalam latar belakang sosial bukan kota (Rustam A. Sani 1985); kedua, kapitalisme membangun kota mengikut keperluan-keperluan struktural ideologinya (A. Halim Ali 1990). Artinya, bahwa kelas yang dominan di perkotaan adalah mereka yang menjadikan kota sebagai alat untuk mencapai tujuan yang mendasar yaitu pemaksimuman kadar keuntungan.
Itulah sebabnya diskusi tentang perkotaan khususnya yang terkait dengan urbanisasi sepertinya selalu menarik untuk terus diperbincangan. Mengikut pendapat Evers dan Korff (2002), diskusi tentang perkotaan di Asia Tenggara tidak bisa lepas dari sejumlah fakta yang membingungkan. Membingungkan karena secara keseluruhan di kawasan ini lambat proses urbanismenya, dan tingkatnya pun secara keseluruhan juga paling rendah dari kawasan lainya.
Itu sebabnya, di Asia Tenggara, sebagian besar angkatan kerja masih bergerak di produksi pertanian; sebagian besar masyarakatnya pun masih berwawasan desa, yang menganggap tinggal di kota sebagai suatu hal yang istimewa. Seperti dijumpai di kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara ini, misalnya Jakarta, Manila dan Bangkok yang kontras dengan kesan sebagai masyarakat Asia Tenggara yang masih berwawasan desa. Bagi Evers dan Korff, kesan bahwa kota-kota besar ini asing bagi masyarakat asli Asia Tenggara diperkuat oleh komposisi penduduknya yang multietnik, serta fakta bahwa semua kota besar itu, kecuali Bangkok belum terlalu lama didirikan oleh penguasa kolonial sebagai pusat pemerintahan dan pengeksploitasian.
Jakarta, misalnya diwujudkan oleh Belanda dengan nama Batavia, tentunya kewujudan kota ini disesuaikan dengan tuntutan dan keperluan kolonial, bukan pada keperluan penghuni yang telah ada sebelum kota ini wujud. Kemajemukan menjadi ciri kota Jakarta, sehingga dapat dikatakan sejak dari awal penduduk asli kawasan ini pun tidak dilibatkan membentuk kota Jakarta. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan penduduk asli yang dikenal sebagai orang Betawi bukan lah penciri atau pemberi identitas penduduk kota Jakarta. Dalam perkataan yang lain, meminjam istilah E.M. Bruner (1973), pada perkotaan serupa itu tidak wujud kebudayaan dominan yang dapat mengatasi proses akulturasi dalam rangka urbanisasi.
Dalam kaitannya dengan kebudayaan dominan ini, E.M. Bruner memberikan gambaran kebudayaan dominan di Kota Bandung pada tahun 60-an, di mana juga tinggal berbagai suku-bangsa lain, tetapi di mana kebudayaan Sunda merupakan kebudayaan yang dominan, maka para pendatang (orang Batak Toba) di sana tidak mengadakan pengetatan kembali dari adat istiadat marga. Menurut, Bruner, mereka menyesuaikan diri dengan kebudayaan Sunda, walaupun hanya dalam lapangan-lapangan hidup yang mereka butuhkan untuk menjalankan peranan sosial mereka dengan baik dalam suatu kota yang didominasi oleh kebudayaan Sunda.
Dari kajian Bruner diperkotaan itu, diperoleh pandangan bahwa kebudayaan dominan dapat mengatasi persoalan akultuasi yang terkait dengan urbanisasi, berbeda dengan kawasan perkotaan yang tidak memiliki kebudayaan dominan, maka adat istiadat yang di bawa kaum migran bukannya menjadi kendur, tetapi malahan menjadi ketat. Mereka melakukan itu dengan cara mengetatkan solidaritas kekerabatan dan adat istiadat untuk menguasai kehidupan ekonomi, sosial dan politik di perkotaan. Sebaliknya penduduk asli dalam perkembangan kota cenderung terpinggirkan, karena mereka biasanya terdesak oleh kaum pendatang yang memang telah mempersiapkan diri dengan memperkuat identitas dan memperkuat solidaritas untuk menghadapi saingan-saingan hebat dari suku-suku bangsa lainnya.
Dalam konteks itu, penduduk asli yang menghuni perkotaan kerapkali menjadi korban dari perkembangan dan kemajuan kota (Evers 2002; Wertheim 1999, Dahlan 1997). Dari sudut pandang itulah makalah ini hendak membahas persoalan urbanisasi yang dihadapi penduduk asli dikaitkan dengan perkembangan kota dan kedatangan sejumlah besar kaum migran dari pelbagai etnik dengan keragaman latar belakang sosioekonomi yang menyertainya.
Bontang dahulu hanyalah sebuah kampung kecil yang dihuni oleh beberapa kumpulan keluarga orang Kutai dan orang Bajau. Hubungan sosial-ekonomi keduanya berlangsung secara harmonis, karena didasarkan oleh hubungan sosial paguyuban atau gemeinschaff. Namun ketika tahun 1970-an dengan ditumbuhkannya industri LNG (Liquefield Natural Gas) yang diproduksi oleh PT. Badak NGL, dan kemudian dibangun pula industri Pupuk Kalimantan Timur (PKT), mulai terjadi perubahan besar. Nyatanya, kegiatan di kedua industri ini, telah mengundang banyak pendatang yang beraktivitas baik sebagai pekerja pada kedua industri itu, maupun mereka yang beraktivitas di luar kegiatan industri tersebut.
Bontang kini, adalah salah satu kawasan perkotaan di pesisir Kalimantan Timur tempat berlangsungnya proses diferensiasi kerja yang sangat cepat, yang juga dihuni oleh masyarakat majemuk yang terdiri dari pelbagai etnik, seperti Bugis, Banjar, dan Jawa. Dalam konteks hipotesis kebudayaan dominant menunjukkan bahwa hubungan antaretnik di Kota Bontang cenderung tidak berasaskan pada satu kekuatan kebudayaan sebagai kekuatan yang dapat mengendalikan keteraturan sosial, melainkan lebih didasarkan kepada apakah adanya tawar menawar kekuatan sosial yang dihasilkan dari proses interaksi sosial itu dalam hal pemenuhan ekonomi?
Untuk itulah makalah ini, hendak membincangkan dan menjawab persoalan-persoalan, apakah hubungan antaretnik yang berlangsung setelah kedua industri besar itu wujud dapat menumbuhkan kesefahaman dalam perspektif kebudayaan urbanisasi? Apakah pula kesefahaman itu wujud di tengah-tengah realitas di mana setiap kaum menciptakan dan memantapkan batas-batas sosialnya sebagai bagian dari pengukuhan identitas etnik? Kemudian yang lebih utamanya lagi, adalah hendak diungkapkan pula mengenai apakah penduduk asli yang diwakili oleh orang Kutai dan Orang Bajau yang sejak awal menghuni kawasan itu berperanan dalam urbanisasi atau terpinggirkan.
Dalam konteks itu, pendekatan yang berasaskan pada teori kebudayaan dan involusi kota dapat dijadikan pijakan untuk membahas persoalan-persoalan urbanisasi di Kota Bontang. Persoalan yang muncul dari serbuan kaum pendatang seringkali mengakibatkan berlangsungnya proses akulturasi yang cepat di satu sisi yaitu dengan anggapan bahwa, dalam lingkungan masyarakat kota kebudayaan tradisional akan cepat hilang, kesatuan-kesatuan keluarga luas akan retak menjadi keluarga-keluarga inti yang masing-masing mengurus hidupnya sendiri, dan bahwa akan tumbuh nilai-nilai budaya individualis. Di sisi lainnya, proses akulturasi dapat juga tidak pernah bisa berjalan. Karena ada anggapan bahwa dalam kehidupan masyarakat kota justru ciri paguyuban dalam lingkungan etnisnya bisa muncul sehubungan dengan dorongan untuk bersatu menghadapi persaingan dalam perebutan ekonomi dan kekuasaan. Artinya, adat istiadat tradisional mereka bukannya menjadi kendur dalam kehidupan perkotaan tetapi malahan menjadi semakin bertambah ketat.

2. Evolusi Kota Bontang dari kampug ke kota industri
Wilayah Kota Bontang secara geografis berada di bawah garis khatulistiwa yang terletak antara 117o23’ – 117o38’ BT dan 0o01’ – 0o14’LU, dengan ketinggian 0 – 106 M di atas permukaan laut (dpl) Topografi wilayah relatif datar, landai dan pantai, kawasan yang bergelombang terdapat di sebelah Barat, secara ekologis pula Kota Bontang diapit oleh Hutan Lindung di sebelah Selatan dan Taman Nasional Kutai (TNK) sebelah Utara yang tentunya kota yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung dan taman nasional membuat pengembangan kota menjadi sangat terbatas dan pembangunan yang akan dilakukan harus selalu memperhatikan fungsi dari kedua kawasan tersebut.
Wilayah Bontang yang dikukuhkan menjadi sebuah pemerintahan kota semenjak era reformasi secara administratif berbatasan dengan sebelah: Utara dengan kecamatan Sanggata Kabupaten Kutai Timur; Selatan dengan kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kertanegara; Timur dengan selat Makassar; dan sebelah Barat dengan kecamatan Sanggara Kabupaten Kutai Timur.
Pemerintahan Kota Bontang memiliki wilayah seluas 49.757 Hektar (4 mil laut), dengan komposisi daratan seluas 14.780 Hektar (29,71 %), yang terdiri atas: kawasan hutan lindung dan TNK dengan luas 5.950 Hektar (11,96 %), PT. Badak NGL, CO seluas 1.572 Hektar (3,15 %), PT Pupuk Kaltim seluas 2.010 Hektar (4,04 %) dan seluas 5.248 Hektar (10,56 %), yang diperuntukan bagi areal efektif untuk pembangunan termasuk di dalamnya lahan penampung bangunan, lahan terbangun eksisting, lahan perumahan dan lahan bagi keperluan fasilitas kota. Sedangkan lautan yang termasuk ke dalam wilayah kota Bontang seluas 34.977 Hektar atau 70,29 % dari luas wilayah daratan.
Asal usul Kota Bontang (Periksa Lubis, dkk 2003), seperti dikisahkan orang, pada suatu hari seorang kerabat Sultan Kutai Kertanegara bernama Aji Pao dan para pengikutnya meninggalkan kampung halaman mereka. Hanya dengan bekal tekad dan semangat yang tinggi, mereka bermaksud mencari sebuah daerah yang dapat dijadikan sebagai lahan pertanian, berburu binatang, dan sekaligus sebagai tempat pemukiman mereka. Aji Pao dan para pengikut setianya memutuskan meninggalkan kampung halaman karena di sana mereka merasa tidak memiliki masa depan. Di daerah baru yang hendak dicari, mereka menggantungkan harapan masa depan yang penuh dengan kemakmuran dan ketentraman.
Setelah berjalan sekian lama melewati beberapa bukit dan lembah, Aji Pao dan para pengikutnya sampai di suatu daerah yang tidak berpenghuni. Daerah tersebut terletak di muara Sungai Api. Tanahnya subur karena endapan lumpur yang dibawa oleh sungai tersebut. Dalam benak Aji Pao, daerah inilah yang selama ini mereka cari. Konon, daerah aliran sungai ini dijaga oleh tiga makhluk halus yang bergelar Sang. Pertama, Sang Attak yang bertugas menjaga daerah aliran Sungai Api-Api; kedua, Sang Kima yang bertugas menjaga Aliran anak Sungai Sangatta, dan ketiga Sang Antan., yang menjaga aliran anak Sungai Api-Api.
Oleh karena daerah itu dirasakan sangat cocok dengan hati dan maksud pengembaraannya, Aji Pao kemudian meminta daerah tersebut kepada Sang yang tiga. Aji Pao mengatakan bahwa ia menginginkan daerah tersebut karena akan dijadikan sebagai daerah pemukiman baru bagi dirinya dan para pengikutnya beserta anak cucu mereka di kemudian hari. Selain itu, mereka pun hendak menjadikan daerah itu sebagai ladang pertanian, tempat berburu, dan tempat meramu hasil hutan lainnya. Atas niat baik yang diperlihatkan oleh Aji Pao, ketiga Sang berkenan untuk mengabulkan permohonan tersebut. Lebih dari itu, ketiga Sang berjanji akan membantu Aji Pao dan para pengikutnya dengan cara menjaga keamanan dan keselamatan mereka.
Keputusan Aji Pao memilih daerah tersebut sangatlah tepat karena dengan tanah yang subur Aji Pao dapat mewujudkan cita-citanya yaitu memakmurkan seluruh anak cucunya nanti dan para pengikutnya. Dengan kerja keras, lahan pertanian mereka menghasilkan bahan makanan yang melimpah ruah. Tanaman padi dan tanaman labu parang yang mereka tanam menghasilkan padi dan labu yang sangat baik. Aji Pao percaya bahwa keberhasilan mereka itu juga berkat bantuan ketiga Sang. Selain itu, binatang buruan pun seperti pelanduk dan rusa sangat mudah mereka dapatkan. Hampir tiap hari mereka makan unggas karena jerat yang mereka pasang selalu makan korban. Mereka pun dengan sangat mudah dapat menangkap ikan karena pantai yang letaknya tidak begitu jauh dari pemukiman mereka sangat kaya akan ikan.
Demikianlah, setelah Aji Pao dan para pengikutnya berhasil membangun sebuah lumbung yang bukan saja berisikan padi, tetapi juga berisikan berbagai jenis palawija, dendeng, dan salai maka kembalilah Aji Pao dan para pengikutnya ke kampung halamannya. Mereka bermaksud mengajak pindah sanak keluarganya ke tempat baru dan bersama-sama membangun masa depan mereka di tempat tersebut. Walaupun tidak semua sanak keluarga Aji Pao dan para pengikutnya mengikuti ajakan mereka, namun sebagian besar anggota keluarganya mengikuti jejak Aji Pao meninggalkan kampung halaman mereka dan pindah ke tempat baru yang letaknya di muara Sungai Api-Api.
Versi kedua tentang asal usul Bontang adalah demikian. Dari waktu-waktu semakin banyak para pendatang yang bermukim di daerah tempat tinggal Aji Pao ini, hingga daerah ini kemudian dinamakan Bontang. Istilah ini sendiri diambil dari perpaduan antara istilah bond (perkumpulan) dan tang (pendatang) yang artinya tempat bercampur baurnya berbagai pendatang entah itu dari Bugis, Banjar, Bajau, Jawa, maupun suku bangsa lainnya (wawancara dengan Sayid Albi dan M. Tahir tanggal 26 Oktober 2002).
Tidaklah bisa dipastikan mana yang benar di antara kedua versi itu. Hal ini tidak perlu dipersoalkan karena sejarah itu hasil dari suatu proses, di mana dalam perjalanan waktu kisah-kisah itu bisa bermunculan begitu saja, kadang saling tumpang tindih atau berakumulasi.  Namun demikian, yang tidak dapat diabaikan adalah dalam sejarahnya Kota Bontang tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Kutai.
Perkembangan Wilayah Bontang, setidak-tidaknya, kekuasaan Kerajaan Kutai Kertanegara meliputi seluruh wilayah Kalimantan Timur sekarang. Salah satunya bernama Kota Bontang yang terletak di muara Sungai Api-Api.
Pada awal perkembangannya, Kota Bontang hanyalah sebuah perkampungan kecil para nelayan yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Setelah berdiri beberapa pondok maka mulai berdatanganlah orang-orang suku Bajau dari Pulau Bali Kukup yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Biduk-Biduk Kabupaten Berau. Kemudian disusul pula oleh suku-suku Banjar dan Bugis yang kemudian mendirikan pondok-pondok serupa sebagai tempat tinggal mereka. Pondok-pondok mereka dibangun di atas laut “pasang surut” tepat di mulut muara Sungai Api-Api. Setelah beberapa pondok berdiri berderet di atas laut “pasang surut” tersebut, akhirnya mereka merasa perlu untuk membuat titian yang akan menghubungkan pondok yang satu dengan pondok yang lainnya. Akhirnya, mereka berhasil membuat titian dimaksud dari kayu perepat yang disusun berlapis dan lebarnya  40 cm. Dengan titian tersebut seluruh pondok yang mereka bangun dapat dihubungkan antara yang satu dengan yang lainnya. Interaksi antara masyarakat yang bersuku bangsa Kutai, Bajau, dan Bugis berlangsung secara harmonis karena mereka saling menghargai satu sama lain.
Setidak-tidaknya sampai tahun 1959, Kecamatan Bontang merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura. Akan tetapi, setelah tahun itu Kecamatan Bontang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten/ Daerah Tingkat II Kutai. Perubahan ini seiring dengan pemberlakuan Undang-undang No. 27 Tahun 1959 tentang penghapusan daerah swapraja di Kalimantan Timur (Lubis, 2002: 3). Pada tanggal 21 Januari 1960 dalam sidang istimewa DPRD Kutai, Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura secara resmi dihapus dan sebagai gantinya dibentuk Kabupaten/Daerah Tingkat II Kutai yang meliputi 30 Kecamatan. Salah satu kecamatan yang berada di bawah pemerintahan Kabupaten Kutai adalah Kecamatan Bontang yang pada waktu itu meliputi beberapa desa yaitu Bontang, Tanjung Laut, Santan Ulu, Santan Tengah, Santan Ilir, Sepaso, Tepian Langsat, Keraitan, dan Tebayan Lembab (Muri’ah, 1993: 29).
Berdasarkan gambaran historis dan realitas Bontang tersebut, wajah Bontang yang dahulu serba sederhana dan bersahaja baik dari fasilitas pendukungnya maupun suasana kehidupan masyarakatnya. Kini, apabila boleh dilustrasikan … Bila malam hari kita berdiri di Bukit Sintuk, tampak pemandangan yang indah. Di kejauhan gemerlapan lampu ribuan watt yang dipancarkan dari kompleks pabrik PT. Pupuk Kalimantan Timur dan sekitarnya. Itulah kota di tengah kegelapan “hutan” Kalimantan.
Bontang yang pada tahun 1970-an hanya sebuah desa kecil kini menjadi sebuah kota berpenduduk lebih dari 200.000 orang. Desa kecil ini berkembang setelah munculnya dua industri besar di kawasan ini yaitu PT. Badak NGL dan PT. Pupuk Kalimantan Timur Tbk.
Di awal tahun tujuhpuluhan sarana transportasi yang menghubungkan Kota Samarinda sebagai Ibukota Propinsi Kalimantan Timur dengan Bontang yang kini telah menjadi sebuah kota “untuk pergi ke Samarinda dari Bontang hanya dapat menggunakan perahu yang menempuh waktu sekitar 5 hari bila keadaan normal dan bisa sampai 15 hari bila angin barat”. Begitu pula jalan darat di Kota Bontang “hanya ada untuk kepentingan ‘loging’ dan jalannya pun melingkar-lingkar tak tentu arahnya”.
Kehadiran PT. Badak NGL yang kemudian disusul oleh dibangunnya PT. Pupuk Kaltim telah membawa perubahan, PT Pupuk Kaltim kemudian membuka jalan tanah yang menghubungkan pusat kecamatan yang terletak di Bontang Baru ke kompleks PKT. Seiring dengan perkembangan Bontang sebagai Kota Administratif dilakukan pembangunan jalan-jalan lainnya yang beraspal untuk menghubungkan antardesa yang ada di wilayah Kecamatan Bontang, malah kemudian dibangun pula jalan yang menghubungkan Bontang –Kota Samarinda.
Dengan dibangunnya jalan raya Bontang – Samarinda sarana transportasi umum yang dahulu hanya melalui laut, setelah itu dapat ditempuk melalui jalan darat yang waktu tempuhnya menjadi semakin singkat hanya sekitar 4 sampai 5 jam. Bahkan, kini dengan keadaan jalan raya itu semakin baik waktu tempuh kendaraan dari Kota Bontang ke Kota Samarinda hanya sekitar 2 jam. Lain halnya PT. Badak dan PT. Pupuk Kaltim bagi kepentingan transportasi ke luar Bontang lebih banyak menggunakan sarana trasportasi udara yang mereka milik sendiri, untuk keperluan itu PT. Badak NGL membangun bandara sendiri yang berada di lingkungan kawasan perusahaan PT. Badak. Selain itu, untuk keperluan pengangkutan yang melalui laut Pemerintah Kota Bontang telah membangun pelabuhan laut di Lok Tuan, berdampaingan dengan pelabuhan laut milik PT. Pupuk Kaltim.
Dari sisi sarana dan prasarana perkotaan, Kota Bontang bukan lagi merupakan kota yang sulit dijangkau seperti menjelang tahun tujuhpuluhan. Untuk menjangkau Kota Samarinda saja membutuhkan waktu berhari-hari yang itu pun hanya dapat ditempuh melalui jalan laut. Dengan tersedianya sarana transportasi seperti itu, Kota Bontang merupakan kota yang berkembang pesat dibanding daerah lainnya di Patai Timur Propinsi Kalimantan Timur.

3. Perkembangan sosial ekonomi menuju keterasingan budaya
Demografi, sejalan dengan pembangunan kawasan industri minyak dan gas serta industri pupuk dan semakin tersedianya sarana perhubungan baik darat, laut maupun udara, Bontang menjadi tumpuan bagi para pencari kerja tetapi juga mereka yang bertujuan untuk berdagang. Oleh karena itu, dari sisi kependudukan Kota Bontang menunjukkan perkembangan demografis yang berbeda dengan kota-kota  di Provinsi Kalimantan Timur yang baru dibentuk oleh diterapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, melalui otonomi daerah.
Pertumbuhan penduduk Kota Bontang yang terus meningkat dari tahun ke tahun menyebabkan kepadatan penduduk juga semakin tinggi. Itu artinya, persentase penduduk yang tinggal di Kota Bontang semakin bertambah, dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, yaitu mencapai 3,90 persen di atas angka propinsi yang hanya mencapai 2, 72 persen. Demikian juga pada tahun 2001 laju pertumbuhan penduduk menunjukkan peningkatan yang semakin besar.
Laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi itu, sebagai konsekuensi Kota Bontang yang potensial sumber daya alamnya, yang dapat dilihat dari adanya industri pengolahan minyak dan gas, industri kimia berupa pupuk, melamin dan soda ash, tambang batu bara, Galian C dan perikanan. Karena itu, sebagai daerah yang potensial sumber daya alamnya menjadi daya tarik yang cukup besar untuk mengundang pendatang. Itu artinya, dari sisi demografis menyebabkan tingkat pertambahan penduduk menjadi semakin besar, sebagai akibat oleh pertumbuhan penduduk yang berasal dari tingkat migrasi yang tinggi.
Untuk itu, tingkat migrasi netto Kota Bontang secara total mencapai 4,02 per seribu penduduk pada tahun 2000, jika dilihat lebih rinci lagi berdasarkan wilayah kecamatan, wilayah Kecamatan Bontang Utara lebih tinggi bila dibandingkan dengan Kecamatan Bontang Selatan. Tahun 2000 migrasi netto kecamatan Bontang Utara sebesar 2.024 jiwa, sedangkan kecamatan Bontang Selatan hanya sebesar 1.996 jiwa. Dilihat dari persebarannya, penduduk Kota Bontang dapat dikatakan hampir merata, berdasarkan hasil Suseda 2001 menunjukkan adanya penyebaran penduduk sedikit lebih berpusat di Ibukota Bontang, yaitu Kecamatan Bontang Utara. Penduduk yang menatap di Kecamatan Bontang Utara sebanyak 56.769 jiwa atau sekitar 55,19 persen, sedangkan penduduk yang menetap di Kecamatan Bontang Selatan sekitar 44,81 persen atau sejumlah 46.084 jiwa.
Ditilik dari tingkat kepadatan penduduk, menunjukkan Kecamatan Bontang Utara lebih tinggi dari Kecamatan Bontang Selatan. Di Kecamatan Bontang Utara dihuni oleh sekitar 422 jiwa per km2. Sementara itu, kepadatan penduduk di Kecamatan Bontang Selatan sekitar 169 jiwa per km2.
Tata Ruang Kota Bontang, siapa pun yang akan berkunjung ke Kota Bontang dipastikan melalui salah satu dari tiga jalan masuk, pertama jalan darat, laut dan udara. Dari ketiga jalan masuk itu masing-masing saling terjalin melalui jaringan lalu lintas yang memadai ke akses Ibukota Bontang. Tentunya keadaan itu tidak semata-mata karena kebetulan melainkan setidak-tidaknya dalam penyusunan struktur tata ruang Kota Bontang, telah memperhatikan: (1) pendistribusian pusat-pusat pengembangan sebagai stimulan pengembangan daerah pelayanannya; dan (2)  untuk lebih menekankan pada peningkatan intensitas penggunaan lahan sehingga kemudian dapat membuka peluang bagi desa-desa yang relatif sulit dijangkau menjadi desa yang memiliki potensi untuk pengembangan kota.
Dalam konteks itu, bagian kota yang dikembangkan adalah bagian kota yang memiliki daya dukung dan daya tampung mengingat Kota Bontang ditilik dari sisi ekologis berbatasan dengan kawasan hutan lindung dan taman nasional. Oleh karena itu, struktur tata ruang Kota Bontang tampak perlu memperhitung daerah-daerah yang harus dipertahankan seperti menahan pengembangan ruang ke arah hutan lindung dan tetap mempertahankan lahan-lahan produktif.
Menilik struktur tata ruang seperti itu, menunjukkan pusat-pusat kegiatan kota memang telah tertata sedemikian rupa sehingga setiap wilayah telah memiliki fungsi masing-masing dalam struktur perkotaan. Setiap wilayah dihubungkan oleh jaringan jalan yang mengarah pada jalan utama. Jalan utama di Kota Bontang membujur dari arah utara ke selatan dengan posisi membelah kota. Pusat kegiatan berada di lintasan jalan utama ini, seperti perkantoran, pertokoan dan pasar disamping permukiman penduduk kota.
Kesan padat dan bercampur-baurnya berbagai aktivitas perkotaan akan terlintas ketika menyelusuri jalan utama. Hal itu, terjadi karena pengembangan kota seolah-olah terbatas di daerah kota, “daerah kota sekarang terjepit oleh areal PT. Badak, PT. Pupuk Kaltim dan hutan lindung”.
Dalam tata ruang kota, tampak pemukiman penduduk meski tidak wujud secara spesifik tetapi permukiman penduduk kota sebagian besar mengumpul di daerah kota, sedangkan perumahan pekerja berada agak ke luar wilayah kota, seperti halnya perumahan PT. Badak dan PT. Pupuk Kaltim.
Permukiman penduduk yang berada di daerah kota umunya berdiri mengikut para pendahulunya. Itu menyebabkan, kesan terhadap kawasan permukiman penduduk dibangun berdasarkan pemilihan suku bangsa. Permukiman penduduk serupa itu, bukan berarti secara tegas dalam permukiman itu tidak dijumpai pemukim dari kelompok etnik lainnya.
Permukiman di kawasan Guntung penduduknya lebih dominan mereka yang berasal dari etnik Kutai, sedangkan di kawasan Sidomulyo berdekatan dengan pusat kota bermukim penduduk yang berasal dari etnik Jawa. Lain halnya yang bermukim di kawasan Berbas penduduknya lebih banyak yang berasal dari Mandar dan Mamuju, serta di kawasan Bontang Kuala penduduknya lebih dominan dari etnik Bugis dan Bontang Baru atau dahulu dikenal sebagai kawasan Api-api lebih banyak yang mengaku sebagai orang Melayu.
Bahasa sehari-hari yang umum dipakai di Kota Bontang adalah bahasa daerah. Pemakaian bahasa itu, misalnya di kawasan PT Badak dan PT. Pupuk Kaltim selain Bahasa Indonesia, juga dipergunakan bahasa Jawa, sedangkan di kawasan Bontang Utara digunakan bahasa Kutai dan Bugis, dan di kawasan Bontang Selatan lebih banyak digunakan bahasa Bugis dan Banjar.
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perkembangan sosial ekonomi Bontang sejak awal sampai sekarang. Ekonomi Bontang masa-masa awal berhubungan erat dengan mata pencarian penduduknya sebagai petani dan penangkap ikan (nelayan) laut. Ketika itu penduduk Bontang masih terdiri atas orang Bajau dan Kutai. Orang Bajau menempati wilayah pesisir dan pulau-pulau dan merekalah yang bertindak sebagai nelayan, sedangkan orang Kutai bermukim di wilayah darat dan hidup sebagai petani.
Dari daerah yang sepi penduduk serta miskin sarana dan prasarana kemudian berkembang menjadi daerah terbuka yang menjanjikan suatu perbaikan ekonomi. Kedatangan orang-orang itu tidak dapat dicegah. Mereka mendirikan tempat tinggal di sembarang tempat, asal bisa didirikan bangunan. Akibatnya lingkungannya menjadi tidak teratur.
Masa-masa selanjutnya sesudah semakin banyak pendatang dengan latar belakang sosial budaya yang sangat bervariasi, serta status Bontang meningkat menjadi kecamatan, kemudian Kotif (Kota Administratif) dan akhir Pemerintahan Kota Bontang,   maka sektor-sektor kehidupan sosial ekonomi juga bertambah jenisnya, antara lain sudah adanya perniagaan pasar dan pertokoan, jasa perbankan dan jasa-jasa lainnya.
Berkembangnya kehidupan sosial ekonomi tidak hanya bertambah jenisnya, tetapi orientasinya juga menunjukkan perubahan. Secara umum, dapat dikatakan bahwa sebelum masa industri kegiatan kehidupan sosial ekonomi berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan rumah tangga dan keluarga, namun setelah adanya industri orientasi sosial ekonomi dagang (bisnis) semakin menguat  di semua sektor kehidupan.
Masa Awal Kehidupan Sosial Ekonomi, tidak bisa dipungkiri bahwa peletak dasar-dasar kehidupan dan perkembangan sosial ekonomi Bontang adalah warga masyarakat suku Bajau dan Kutai. Suku Bajau bergerak di sektor penangkapan ikan (nelayan) di laut, sementara warga suku Kutai bergerak dibidang pertanian (ladang).
Suku Bajau bermukim di pulau-pulau, atau di atas laut dengan mendirikan rumah panggung sederhana, bahkan ada juga yang tinggal di atas perahu-perahu mereka, dikenal sebagai “orang laut”, karena secara keseluruhan kehidupannya memang sangat tergantung kepada laut.  Pekerjaan mereka menangkap ikan dan mengumpulkan hasil-hasil laut lainnya (kerang, lobster (udang besar), teripang, rumput laut, sirip ikan hiu) yang selain untuk bahan konsumsi sekeluarga sehari-hari, juga pada masa lalu di bawa ke kampung-kampung di darat dengan maksud untuk ditukar (barter) dengan macam-macam barang kebutuhan utama yang tidak dapat mereka produksi sendiri. Pertukaran dilakukan dengan orang darat (Kutai) untuk mendapatkan hasil-pertanian berupa (beras, jagung, ubi, singkong, pisang sayur-sayuran),  pakaian dan kebutuhan rumah tangga lainnya (sabun, garam, dan lain-lain).
Sebagai petani, masyarakat suku Kutai membuka lahan perladangan sejak dulu sampai sekarang tidak pernah jauh dari wilayah pantai. Di Bontang, misalnya, mereka membuka ladang di wilayah yang dikenal dengan nama Api-Api, hanya kurang lebih 1 kilometer dari pantai  Bontang Kuala.
Perladangan masyarakat Kutai masa lalu menggunakan sistem tebang dan bakar (slash and burn) dalam pembukaan lahan. Tidak seperti petani-petani suku Dayak yang dalam sistem pertaniannya mengenal rotasi lokasi atau kegiatan ladang gilir balik (shifting cultivation) dari suatu tempat ke tempat lain, kemudian dalam beberapa tahun kembali lagi ke tempat semula, maka  para petani-petani Kutai relatif lebih menetap di suatu lokasi. Oleh karena pengaruh perkembangan Bontang, setelah wilayah Api-Api semakin ramai oleh pertambahan penduduk, orang-orang Kutai baru pindah berladang ke wilayah Loktuan dan juga sebagian ke Guntung. Setelah industri PT PKT (Pupuk Kalimantan Timur) masuk ke Bontang dan berlokasi di Loktuan dan daerah ini bertambah ramai pula oleh pendatang dari berbagai wilayah Indonesia, pada akhirnya mereka semua pindah dan berkumpul di Guntumg. Di wilayah Guntung mereka mendirikan rumah, mesjid dan juga ada sekolah yang dibangun pemerintah, dan mereka pun berkembang sebagai suatu komunitas tersendiri. Selain masih melanjutkan pekerjaan sebagai petani (ladang dan sawah) sebagian sudah ada yang membuka warung.
Pada saat ini pusat pemukiman utama warga suku Bajau di Bontang ialah di Pulau Selangan, sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut Bontang dan Tanjung Semangat. Pada tahun 1970-an Pulau Selangan termasuk Desa Tanjung Laut, Kecamatan Bontang Selatan. Di pulau itu rumah-rumah orang Bajau yang dilengkapi dengan anjungan didirikan di atas tanah dengan struktur campuran karang, konstruksinya rata-rata bertiang tinggi sekitar 4 meter, beratapkan daun nipah, dan berdinding papan sekedar melindungi penghuninya dari panas terik, angin, hujan dan deburan ombak.
Selain warga suku Bajau yang masih berdiam di Pulau Selangan, Pulau Tihitihi, dan pulau-pulau di wilayah sekitar Bontang lainnya, sebenarnya beberapa orang Bajau sudah memilih bertempat tinggal di wilayah daratan Bontang, seperti di Bontang Lama (Bontang Kuala), Bontang Baru, Berbas dan Tanjung Laut. Di tempat-tempat tersebut mereka tidak hidup lagi secara berkelompok tetapi berpencar-pencar dan bertetangga dengan warga kelompok masyarakat lainnya. Mereka ada yang menjadi pedagang, toko penyalur bahan makanan dan keperluan nelayan, penyalur bahan bakar untuk keperluan di laut (kapal motor, perahu dan ketinting). Di antara mereka bahkan sudah ada yang berprofesi sebagai pengusaha taksi.
Bagi orang-orang Bajau yang masih bertahan tinggal di pulau-pulau dan tidak mempunyai niat serta tidak mau dipindahkan ke Bontang daratan, apabila ditanyakan alasan-alasannya, mereka memberikan jawaban bahwa sudah terbiasa dengan kehidupan laut sebagai nelayan dan pengumpul hasil-hasil laut seperti teripang, rumput laut, sirip ikan hiu dan pengumpul kayu bakau di pulau sekitar yang tidak berpenghuni.
Suku Bajau yang ada di Kalimantan Timur umumnya berasal dari Pulau Sulawesi. Pendapat ini diperkuat oleh hasil penelitian ilmuwan asal Perancis, bernama Gaynor yang pernah mengadakan penelitian di Sulawesi pada tahun 1990. Berdasarkan hasil penelitiannya, dia menyatakan bahwa suku Bajau di Kalimantan Timur berasal dari sebuah pusat kekuasaan di Pulau Balu, sekarang termasuk Kecamatan Tikep, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Seperti disebutkan di atas bahwa masyarakat Bajau yang masih tinggal di pulau-pulau tetap bertahan dengan pekerjaan mereka sebagai nelayan. Hanya saja hasilnya tidak perlu lagi dibarter karena pada saat ini sudah bisa dipasarkan langsung ke Kota Bontang. Demikian pula para petani suku Kutai, yang pada saat ini banyak bertempat tinggal di Guntung, memasarkan hasil-hasil pertaniannya ke beberapa pasar di Bontang. Apabila warga suku Bajau dan suku Kutai secara mayoritas  masih bertahan dengan jenis pekerjaan masing-masing (nelayan dan petani) sampai sekarang, maka apabila  dilihat dari segi akulturasi (perpaduan) jenis-jenis pekerjaan tersebut, sebenarnya dapat dilihat pada kehidupan masyarakat Bontang Kuala yang terdiri dari kepelbagian latar belakang etnik telah dapat menjalankan akulturasi.
Kota Bontang yang dibangun oleh para pendatang memang sampai saat ini memperlihatkan sebuah masyarakat yang majemuk. Suku bangsa Kutai sebagai penduduk asli saat ini membentuk komunitas tersendiri di daerah Gintung setelah ladang pertaniannya semakin terdesak oleh perkembangan Kota Bontang. Kota ini dibangun oleh masyarakat dari berbagai suku bangsa seperti Bugis, Banjar, Jawa dan lain-lain. Terlepas dari kehidupan yang harmonis di antara suku-suku bangsa itu, agaknya terdapat tingkatan atau gradasi di antara mereka. Orang-orang Dayak, Kutai, Bugis, Banjar, dan Jawa karena sudah begitu lama tinggal di Kota Bontang merasa dirinya sebagai pribumi bila dibandingkan dengan mereka yang datang sejak tahun 1980-an (Lubis, 2002: 4).
Orang Bugis memiliki kedudukan sosial yang cukup tinggi di Kecamatan Bontang karena peranannya pada masa lampau. Hubungan antara Kutai Kertanegara dan Bugis terjadi sejak tahun 1665 seiring dengan berakhirnya peperangan antara Bone dan Wajo. Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Bugis ini banyak yang berdiam di daerah pesisir termasuk di Kota Bontang. Mereka menguasai sektor-sektor utama seperti transportasi, pemerintahan, dan perdagangan (Lubis, 2002: 7).
Orang Banjar yang bahasanya banyak dipakai di Bontang sudah datang ke daerah ini sejak beberapa generasi lalu. Bahasa Banjar banyak dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di tempat umum. Hubungan dagang yang lancar dengan Banjarmasin menunjukkan bahwa hubungan sudah cukup lama terjalin antara Bontang dan Banjarmasin.

4. Penduduk asli berperan atau terpinggirkan
Untuk membincangkan penduduk asal dalam kaitannya dengan urbanisasi pengalaman Kota Bontang tidak dapat dikesampingkan taraf pencapaian ekonomi dan kemampuan akulturasi baik yang menyangkut penyerapan ekonomi maupun kemampuan memperkuat asas identitas kesukubangsaan dari keseluruhan warga kota.
Perkembangan Kota Bontang yang disebabkan oleh pengaruh faktor industri dan pertambahan penduduk memang sangat dekat dengan persoalan adanya peluang-peluang ekonomi. Masalahnya hakikat industri adalah memang merupakan suatu sistem yang mempunyai sasaran-sasaran – perluasan ekonomi dan produksi, peningkatan konsumsi yang memadai, kemajuan teknologi, dan citranya dalam pandangan masyarakat umum adalah sama dan sebangun dengan kehidupan (Galbraith, 1985). Apa yang cocok dengan sistem industri itu dapat dilakukan karena akan selalu berarti menyesuaikan antara keinginan dengan sistem industri. Sebaliknya, sesuatu yang tidak selaras dengan sistem industri sebaiknya jangan dilakukan sebab akan beresiko pada kehidupan secara luas.
Secara ekonomis, kota yang berkembang karena adanya industri dapat didefinisikan sebagai suatu permukiman penduduk yang kehidupan utama masyarakatnya  lebih dekat kepada aktivitas-aktivitas perdagangan dan perniagaan daripada kegiatan pertanian (Weber, 1958). Dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat industri peranan pasar dan kelembagaan ekonomi keuangan lainnya menjadi komponen yang sangat perlu bagi kehidupan masyarakatnya.
Atas dasar itulah, dapat dikatakan bahwa warga masyarakat yang tidak mampu memanfaatkan kondisi dan peluang ekonomi perdagangan dan perniagaan, meskipun tinggal di wilayah perkotaan, sesungguhnya masih merupakan bagian dari kelompok masyarakat agraris. Apalagi, tanah yang menjadi modal utama kegiatan pertanian itu sudah bukan lagi menjadi miliknya, maka menyebabkan keterpinggiran dari aktivitas ekonomi kota.
Hal serupa itu, berlaku bagi warga masyarakat Kota Bontang yang mengaku sebagai orang Kutai dan orang Bajau. Mereka masih tetap menjalankan aktivitas yang dilakukan para pendahulunya, meskipun perkembangan ekonomi kota sudah dipenuhi dengan berbagai aktivitas industri. Keterlibatan mereka masih sebatas untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga dan keluarga atau dikenal sebagai ekonomi subsisten kota, sebab fakta sosial ekonomi mereka bukan ekonomi pasar, bukan pula ekonomi yang menggunakan perangkat-perangkat yang rumit dan kreatif, seperti halnya produksi industrial dan sektor formal. 
Di luar industri dan pertambahan penduduknya, faktor-faktor lain yang juga berpengaruh terhadap keterpinggiran mereka sebagai akibat proses perkembangan Bontang menjadi sebuah kota ialah semakin baiknya infrastruktur yang menunjang perekonomian dalam kota, telah terbukanya jalan darat yang menghubungkan antara Bontang dan Samarinda, dilengkapi pula dengan sebuah terminal bus dan kendaraan umum lainnya sehingga menunjang kelancaran lalulintas perpindahan barang dan jasa. Selain itu, faktor lainnya adalah adanya pelabuhan udara dan beberapa pelabuhan laut, yang kesemuanya memiliki fungsi-fungsi untuk menggerakan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya. Namun apa artinya semua itu, bagi peran mereka jika mereka masih cenderung sebatas ada di bagian pinggir kemajuan kota.
Akhinya sebagai simpulan dari gambaran itu, tentu saja ada bermacam-macam hambatan, kendala dan tantangan yang juga dihadapi dalam perkembangan sebuah kota. Sejarah kota-kota di beberapa negara  memberikan pelajaran bahwa (lihat, Robert E. Park, 1974) “terabaikannya keseimbangan antara lingkungan alami, lingkungan sosial dan pemenuhan kebutuhan yang diinginkan warga masyarakat” akan selalu menjadi penyebab pertama dan utama bagi penduduknya yang menghuni kota itu adalah malapetaka kemanusiaan.

Daftar Pustaka
Abdul Halim Ali. 1990. Solidariti Komuniti Golongan Berpenghasilan Rendah di Sandakan. Dalam Abdul Samad Hadi dan Sulong Mohamad (Peny.) Perbandaran dan Transformasi Bandar Negeri Sabah. Bangi: UKM – Yayasan Sabah.
Bruner, E.M. 1973. The Expression of Ethnicity in Indonesia. Dalam Urban Ethnicity, Redaksi A. Cohen. London: Tavistock.
Dahlan, H.M. 1997. Urbanisasi Alam Kejiwaan Sosial dan Pembangunan. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.
Evers, Hans-Dieter & R. Korff. 2002. Urbanisme di Asia Tenggara Makna dan Kekuasaan dalam Ruang Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Galbraith, J. K. 1985. “Masa Depan Sistem Industri”, dalam Y. B. Mangunwijaya (Peny.). Teknologi dan Dampak Lingkungannya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Lubis, Nina H. 2002. “Potensi Konflik dalam Masyarakat Majemuk”. Makalah dalam Acara Raker PT Pupuk Kalimantan Timur Tbk.
Lubis, Nina H., Ade Makmur K, Abdurrahman Patji dan Awaludin Nugraha. 2003. Kota Bontang Sejarah Sosial Ekonomi. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Bandung: Penerbit Satya Historika.
Makkaraka, M. Nasir. 2001. Bontang dalam Hikayat: Sebuah Studi Pendahuluan tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Bontang Ditinjau dari Segi Adat dan Budaya. Bontang.
Mujiani, dkk., 2000. Mobilitas Penduduk dan Pembangunan Daerah di Kota Bontang dan Sekitarnya Propinsi Kalimantan Timur. Jakarta: Puslitbang Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Lembaga Ilmu Penengetahuan Indonesia (PPT-LIPI).
Muri’ah, Siti H. 1993. Keberadaan PT. Pupuk Kalimantan Timur Bagi Perubahan Tata Nilai Masyarakat Kota Administratif Bontang. Samarinda: Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Samarinda.
Park, Robert E. 1974. “The City: Suggestions for the Investigation of Human Behavior in the Urban Environment”, dalam Robert E. Parks dan Ernest W. Burgess. The City. Chicago and London: The University of Chicago Press.
Produk Domestik Regional Bruto Kota Bontang Menurut Lapangan Usaha 1993-2000. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bontang dengan BPS Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai.
Statistik Ekspor dan Impor Kota Bontang 2000. Kerjasama Bappeda Kota Bontang dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai.
Studi Pendapatan Faktor Produksi Neto Kota Bontang Tahun 2000. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bontang dengan BPS (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kutai).
Wahab, Ida et al. 1993. Dwi Windu PT Pupuk Kalimantan Timur 1977-1993. Bontang: PT Pupuk Kalimantan Timur.
Weber, Max. 1858. The City. Translated and Edited by Don Martindale and Gertrud Neuwirth. New York:  The Free Press.

 

***oleh : Ade Makmur Kartawinata

Lektor Kepala pada Jurusan Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Bandung – Jawa Barat.;

E-mail: dkarhita@yahoo.com

Makalah dikemukakan pada Konferensi Antar-Universiti Se Borneo-Kalimantan Ke-4, tanggal 24 – 25 Juni 2008 di Universitas Mulawarman, Kota Samarinda Kalimantan Timur. Diprakarsakan oleh Institut Pengajian Asia Timur Universiti Malaysia Sarawak – Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: