Amalan Agama Lokal dalam Komunitas Terpinggir di Jawa Barat: Kajian Antropologi Agama

Di Jawa Barat, agama tradisi besar telah dipeluk oleh serta menjadi keyakinan keagamaan masyarakat, namun bukan berarti, kepercayaan atau keyakinan dari komunitas lokal hilang dengan sendirinya, sebab pada tingkat pribadi atau komunitas agama yang mereka anut seringkali dipengaruhi oleh keyakinan lokal. Dalam kehidupan komunitas yang terpinggir pada waktu melihat dan memperlakukan agama sebagai kebudayaan maka yang dilihat adalah agama sebagai keyakinan yang ada dalam komunitasnya, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, seperti yang dijumpai dalam kitab-kitab suci agama wahyu. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam komunitas, maka agama menjadi bercorak lokal; yaitu, lokal sesuai dengan kebudayaan dari komunitasnya itu.

Amalan agama yang bercorak lokal dalam komunitas terpinggir di pedalaman Provinsi Jawa Barat menjadi bagian dari kebudayaan mereka, sekaligus agama bagi mereka merupakan bagian dari nilai-nilai kebudayaannya. Dengan demikian, berbagai tindakan untuk pemenuhan keperluan hidup keseharian bersandar pada etos yang mereka yakini, yaitu etos yang diturunkan dari kepercayaan kepada leluhur atau karuhun.

Lantaran itu, nilai-nilai yang diserap dan tercermin pada berbagai pranata yang ada dalam komunitas mereka semata-mata berdasarkan keyakinan yang diterimanya dari karuhun. Dengan demikian, tulisan ini untuk menggambarkan bagaimana amalan kepercayaan (“agama lokal”) berfungsi menjawab kehidupan warga komunitas terpinggir. Selain itu tulisan ini juga menjelaskan mengapa agama lokal hidup di tengah lajunya keyakinan yang ditawarkan agama-agama tradisi besar serta untuk menjawab soalan bagaimana implikasi amalan agama lokal bagi dinamika sosial.

1.      Pengenalan

Agama, secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan lingkungannya. Dalam definisi tersebut, agama dilihat sebagai sebuah doktrin atau teks suci sedangkan hubungan agama dengan manusia yang meyakininya dan khususnya kegiatan-kegiatan manusia penganut agama tersebut tidak tercakup dalam definisi tersebut.

Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya Antropologi dan Sosiologi, yang perhatian utamanya adalah kebudayaan dan masyarakat manusia, telah mencoba untuk melihat agama dari perspektif masing-masing bidang ilmu dan pendekatan-pendekatan yang mereka gunakan, sebagai upaya memahami hakekat agama dalam kehidupan manusia dan masyarakatnya. Di antara berbagai upaya yang dilakukan oleh para ahli Antropologi untuk memahami hakekat agama bagi dan dalam kehidupan manusia, Michael Banton telah mengedit sebuah buku yang berjudul Anthropological Approaches to the Study of Religion, yang diterbitkannya pada tahun 1966.

Di antara tulisan-tulisan yang ada dalam buku tersebut, yang kemudian menjadi klasik karena sampai dengan sekarang ini masih diacu dalam berbagai tulisan mengenai agama, adalah tulisan Clifford Geertz yang berjudul Religion as a Cultural System. Tulisan Geertz inilah yang telah menginspirasikan dan menjadi acuan bagi perkembangan teori-teori mengenai agama yang dilakukan oleh para ahli Antropologi.

Dalam konteks itu, tulisan amalan agama lokal dalam komunitas terpinggir ini juga mengacu pada teori Geertz mengenai agama sebagai sistem budaya. Komunitas serupa ini, wujud atas berbagai tekanan terhadap mereka selama ini yang mengikat warga komunitas hanya boleh menganut ajaran agama yang disyahkan pemerintah. Selain itu, komunitas terpinggir ini juga wujud karena adanya perasaan terisolasi dari dunia luar, akibat isolasi pergaulan mereka tidak bisa turut berkecimpung dalam pelbagai kegiatan yang memungkinkan mereka berperan dalam pemerintahan dan pembangunan seperti yang dialami komunitas Nunuk di Kabupaten Majelengka.

2.      Agama Sebagai Sistem Budaya

Karya Clifford Geertz mengenai agama, kebudayaan, dan upacara, memperlihatkan suatu perspektif tersendiri berkenaan dengan pengkajian antropologi mengenai sistem kognitif dan simbolik. Bagi Geertz, agama merupakan bagian dari suatu sistem budaya yang lebih meresap dan menyebar luas, dan bersamaan dengan itu kedudukannya berada dalam suatu hubungan dengan dan untuk menciptakan serta mengembangkan keteraturan kebudayaan; dan bersamaan dengan itu agama juga mencerminkan keteraturan tersebut. Seperti dikatakannya (Geertz, 1973:90):

Agama adalah suatu sistem simbol yang bertindak untuk memantapkan perasaan-perasaan (moods) dan motivasi-motivasi secara kuat, menyeluruh, dan bertahan lama pada diri manusia, dengan cara memformulasikan konsepsi-konsepsi mengenai hukum/keteraturan (order), dan menyelimuti konsepsi-konsepsi tersebut dengan suatu aturan tertentu yang mencerminkan kenyataan, sehingga perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi tersebut, nampaknya secara tersendiri (unik) adalah nyata ada.

Walaupun pemikiran agama dikatakannya sebagai tidak semata-mata menstrukturkan kebudayaan, tetapi agama juga dilihat sebagai pedoman bagi ketepatan dari kebudayaan; suatu pedoman yang beroperasi melalui sistem simbol pada tingkat emosional, kognitif, subyektif, dan individual. Itu artinya, menurut Geertz (1973:89), kebudayaan adalah pola dari pengertian-pengertian atau makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis, suatu sistem mengenai konsepsi-konsepsi yang diwariskan dalam bentuk-bentuk simbolik yang dengan cara tersebut manusia berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehidupan.

Simbol adalah garis-garis penghubung antara pemikiran manusia dengan kenyataan yang ada di luar, yang dengan mana pemikiran harus selalu berhubungan atau berhadapan; dan yang dalam hal ini pemikiran manusia dapat dilihat sebagai “suatu bentuk sistem lalu lintas dalam bentuk simbol-simbol yang signifikan” (Geertz, 1973:362). Dengan demikian, sumber dari simbol-simbol itu pada hakekatnya ada dua, yaitu: (1) yang berasal dari kenyataan luar yang terwujud sebagai kenyataan sosial dan ekonomi; dan (2) yang berasal dari dalam dan yang terwujud melalui konsepsi dan struktur sosial. Dalam hal ini simbol-simbol menjadi dasar bagi perwujudan model dari dan model bagi dari sistem- dalam suatu cara yang sama dengan bagaimana agama mencerminkan dan mewujudkan bentuk sistem sosial.

Sistem budaya dan sistem konsepsi dengan demikian dilihat sebagai mempunyai persamaan struktur-struktur dinamik dan begitu juga mempunyai persamaan dalam hal asal mulanya, yaitu dalam bentuk simbolik. Peranan dari upacara (ritual) menurut Geertz, adalah untuk mempersatukan dua sistem yang sejajar dan berbeda tingkat hierarkinya ini dengan menempatkannya pada hubungan-hubungan formatif dan reflektif antara yang satu dengan yang lainnya dalam suatu cara sebagaimana masing-masing itu dihubungkan dengan asal mula simboliknya dan asal mula ekspresinya. Bentuk-bentuk kesenian dan begitu juga dengan upacara, adalah sama keadaannya dengan perwujudan-perwujudan simbolik lainnya, yaitu “mendorong untuk menghasilkan secara berulang dan terus menerus mengenai hal-hal yang amat subyektif dan yang secara buatan dan polesan dipamerkan” (Geertz, 1973:451).

Dengan demikian, sebagai suatu keseluruhan, upacara mempunyai kedudukan sebagai perantara simbolik, atau mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai perantara metafor, dalam kaitannya dengan kebudayaan dan pemikiran subyektif yang memungkinkan bagi keduanya (yaitu upacara dan kebudayaan) untuk dapat saling bertukar tempat dan peranan. Kesanggupan dari upacara untuk bertindak dan berfungsi seperti ini, yaitu menterjemahkan tingkat-tingkat lainnya yang lebih tinggi sehingga membuat manusia menjadi sadar dengan melalui pancaindera serta perasaannya, dan mewujudkan adanya kesamaan dalam keseia-sekataan yang struktural dalam bentuk simbolik, adalah sebenarnya merupakan dasar utama dari pemikiran manusia. Seperti dikatakan oleh Geertz (1973:94): “Dapatnya saling tukar menukar tempat dan peranan dari model bagi dan model dari yang dalam mana formulasi simbolik dapat dilakukan adalah ciri-ciri khusus dari mental kita sebagai manusia”.

Untuk itu bagi Geertz (1973:452), kebudayaan adalah “seperangkat teks-teks simbolik”, maka kesanggupan manusia untuk membaca teks-teks tersebut dipedomani oleh dan dalam struktur-struktur upacara yang bersifat metafor, kognitif, dan penuh dengan muatan emosi dan perasaan. Agama dan upacara adalah dua satuan yang secara bersamaan merupakan sumber dan model keteraturan sosial (social order). Dalam konteks itu, Parsudi Suparlan (1988), mengemukakan, bahwa kebudayaan, adalah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat. Sebagai pedoman hidup sebuah masyarakat, kebudayaan digunakan oleh warga masyarakat untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan hidupnya dan mendorong serta menghasilkan tindakan-tindakan untuk memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dalam lingkungan hidupnya untuk pemenuhan pelbagai keperluan hidup mereka.

Untuk dapat digunakan sebagai acuan bagi interpretasi dan pemahaman, maka kebudayaan berisikan sistem-sistem penggolongan atau pengkategorisasian yang digunakan untuk membuat penggolongan-penggolongan atau memilih-milih, menseleksi pilihan-pilihan dan menggabungkannya untuk kepentingan tertentu. Dengan demikian, setiap kebudayaan berisikan konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode untuk memilih, menseleksi hasil-hasil pilihan dan mengabungkan pilihan-pilihan tersebut.

Sebagai sebuah pedoman bagi pemenuhan keperluan hidup maka kebudayaan berisikan konsep-konsep, resep-resep, dan petunjuk-petunjuk untuk dapat digunakan bagi menghadapi dunia nyata supaya dapat hidup secara biologi, untuk dapat mengembangkan kehidupan bersama dan bagi kelangsungan masyarakatnya, dan pedoman moral, etika, dan estetika yang digunakan sebagai acuan bagi kegiatan mereka sehari-hari. Operasionalisasi dari kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat adalah melalui berbagai pranata-pranata yang ada dalam masyarakat tersebut. Pedoman moral, etika, dan estetika yang ada dalam setiap kebudayaan merupakan inti yang hakiki yang ada dalam setiap kebudayaan.

Kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, memungkinkan warga masyarakat untuk dapat saling berkomunikasi tanpa menghasilkan kesalahpahaman. Karena dengan menggunakan kebudayaan yang sama sebagai acuan untuk bertindak maka masing-masing pelaku yang berkomunikasi dapat meramalkan apa yang diinginkan oleh pelaku yang dihadapinya. Begitu juga dengan menggunakan simbol-simbol dan tanda-tanda yang secara bersama-sama mereka pahami maknanya maka mereka juga tidak akan saling salah paham. Pada tingkat perorangan atau individual, kebudayaan menjadi pengetahuan para pelakunya, sekaligus juga sebagai sebuah keyakinan, terutama keyakinan mengenai kebenaran dari pedoman hidupnya. Lantaran itu, kebudayaan cenderung untuk tidak mudah berubah.

Konsep mengenai kebudayaan seperti telah dikemukakan di atas itulah yang dapat digunakan sebagai alat atau kacamata untuk memahami agama. Bila agama dilihat dengan menggunakan kacamata agama, maka agama diperlakukan sebagai kebudayaan; yaitu: sebagai sebuah pedoman bagi kehidupan masyarakat yang diyakini kebenarannya oleh warga masyarakat. Agama dilihat dan diperlakukan sebagai pengetahuan dan keyakinan yang dipunyai oleh sebuah masyarakat; yaitu, pengetahuan dan keyakinan yang kudus dan sakral yang dapat dibedakan dari pengetahuan dan keyakinan sakral dan yang profan yang menjadi ciri dari kebudayaan.

Dalam konteks itu, pada waktu kita melihat dan memperlakukan agama sebagai kebudayaan maka yang kita lihat adalah agama sebagai keyakinan yang hidup yang ada dalam masyarakat manusia, dan bukan agama yang ada dalam teks suci, yaitu dalam kitab suci Al Qur’an dan Hadits Nabi. Sebagai sebuah keyakinan yang hidup dalam masyarakat, maka agama menjadi bercorak lokal; yaitu, lokal sesuai dengan kebudayaan dari masyarakat tersebut.

Mengapa demikian? Sebab, untuk dapat menjadi pengetahuan dan keyakinan dari masyarakat, maka agama melakukan berbagai proses perjuangan dalam meniadakan nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan keyakinan hakiki dari agama dan untuk itu juga harus dapat mensesuaikan nilai-nilai hakikinya dengan nilai-nilai budaya serta unsur-unsur kebudayaan yang ada, sehingga agama dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai unsur dan nilai-nilai budaya dari kebudayaan. Artinya, agama menjadi nilai-nilai budaya dari kebudayaan.

Dengan demikian, manakala agama telah menjadi bagian dari kebudayaan maka agama juga menjadi bagian dari nilai-nilai budaya dari kebudayaan. Untuk itu, maka berbagai tindakan yang dilakukan oleh warga masyarakat untuk pemenuhan keperluan hidup kesehariannya juga akan berlandaskan pada etos agama yang diyakini. Lantaran itu, nilai-nilai etika dan moral agama akan terserap dan tercermin dalam berbagai pranata yang ada dalam masyarakat. Demikian juga jika keadaan sebaliknya, bila yang menjadi inti dan yang hakiki dari kebudayaan adalah nilai-nilai budaya yang lain, maka nilai-nilai etika dan moral dari agama yang dipeluk oleh masyarakat hanya penting untuk upacara-upacara saja, atau dalam bahasa sehari-hari kegiatan keagamaan serupa itu disebut formalitas belaka.

3.      Amalan Agama Lokal: Kasus Komunitas Nunuk

Kampung Nunuk merupakan salah satu kampung yang secara administrasi terletak di Desa Cengal, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, sekitar 40 Km arah selatan Kota Majalengka, atau lebihkurang 100 Km dari Ibukota Propinsi Jawa Barat di Kota Bandung. Untuk menjangkau Kampung Nunuk dapat ditempuh melalui jalan desa yang kondisinya amat rusak dan pada musim penghujan kondisi jalan ini menjadi tidak berfungsi karena jalan terputus oleh sungai.

Nunuk sekarang nama sebuah kampung, padahal masa sebelum tahun 1960-an, Nunuk adalah nama sebuah desa. Tetapi sejak tahun 1960-an itu Nunuk atau Desa Nunuk dihapus kata desa-nya oleh pemerintah. Artinya, secara administratif Nunuk tidak lagi membawahi kampung-kampung lain, diantaranya kampung Cikowoan, kampung Kadut, Kampung Babakan, Kampung Cirelek. Nunuk dan kampung-kampung bawahannya sekarang oleh penduduk dinamakan “Nunuk Kompleks”. Kini Nunuk dan bekas bawahan kampung-kampungnya itu menjadi bawahan atau bagian Pemerintahan Desa Cengal.

Jumlah penduduk Kampung Nunuk pada tahun 2002, tercatat sebanyak 694 jiwa atau 332 Laki-laki dan 362 Perempuan, dengan 325 Kepala Keluarga. Penduduk Nunuk dan penduduk kampung-kampung di sekitarnya itu (Nunuk Kompleks), tetap memiliki rasa kesatuan yang erat dalam lingkup kebudayaan Sunda. Mereka masih mengenal satu sama lain dan tetap bergaul, saling kunjung mengunjungi dan hidup dengan memanfaatkan lingkungannya demi mencukupi keperluan hidup mereka. Pergaulan hidup mereka serupa itu diperkuat dengan adanya perasaan terisolasi dari dunia luar, karena sarana jalan masuk ke kelompok kampung-kampung itu kurang mendapat perhatian dalam hal pemeliharaannya. Karena itu hubungan timbal balik dengan penduduk di luar masyarakatnya tidak memadai.

Frekuensi saling hubungan dengan penduduk di luar tidak sekerap waktu Nunuk masih memiliki sebutan sebagai sebuah Desa. Walaupun demikian kontak dengan “dunia” luar masih tetap ada, berupa kontak fisik langsung (kunjungan penduduk luar ke “Nunuk Kompleks” atau sebaliknya tetap berlangsung). Keadaan isolasi itu, disebabkan, sarana jalan tidak memadai, mengakibatkan penduduk kurang mampu “melempar” surplus hasil usaha mereka di bidang pertanian. Mereka kebanyakan menunggu orang luar datang membeli surplus usaha mereka itu. Hambatan isolasi itulah yang mereka rasakan sangat berat, sehingga pergaulan mereka dengan dunia luar tidak maksimal. Mereka tidak bisa turut berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka berperan dalam bidang perdagangan, pendidikan, partisipasi dalam pemerintah dan pembangunan umumnya. Singkatnya mereka termarjinalkan secara sosial, budaya, ekonomi maupun politik.

Kepercayaan, warga kampung Nunuk khususnya dan umumnya “Nunuk  Kompleks”, selain mengaku telah beragama Islam. Namun dalam praktek kehidupan sehari-harinya mereka kerapkali melaksanakan amalan-amalan yang bersandar pada ajaran leluhur. Amalan keramat oleh warga umumnya dilakukan terhadap pemujaan baik di kubur para karuhun (leluhur) maupun kepercayaan kepada keramat gaib yang menghuni tempat-tempat di alam semula jadi di kawasan-kawasan tertentu. Selain itu, juga kerapkali dilaksanakan slametan sebagai perwujudan dari keyakinan mereka terhadap perlindungan yang diberikan oleh para leluhur dan keramat.

Slametan dalam konteks ini melingkupi: peristiwa yang berkisar sekitar masa krisis kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan dan kematian, yang berhubungan dengan integrasi sosial kampung dikenal sebagai buku taun, dan slametan yang diselenggarakan dalam waktu tertentu yang terkait dengan adanya kejadian luar biasa baik yang dialami oleh seluruh warga komunitas maupun oleh perorangan seperti pindah tempat tinggal, sakit yang tidak kunjung sembuh dan ganti nama, semua itu mereka kenal sebagai ngaruat.

Dalam slametan itu juga dilengkapi oleh sesajen terdiri dari seperangkat sajian berupa tantang angin, kupat, puncak manik, dan telur ayam di simpan di pintu gerbang kampung atau dimakam karuhun mereka. Sedangkan untuk kelemgkapan ngaruat kampung selain sesajen itu juga dilengkapi dengan kepala kambing yang ditanam di dalam tanah di depan pintu masuk balai kampung sebagai persembahan kepada leluhur dan para roh pelindung kampung.

Upacara ngaruat yang bersifat kolektif untuk kesejahteraan warga kampung diselenggarakan secara rutin paling lambat tujuh tahun sekali atau sesuai dengan keperluan, artinya didorong oleh adanya peristiwa atau kejadian-kejadian luar biasa. Selain itu, slametan yang juga erat hubungannya dengan kepercayaan mereka adalah upacara “Buku Taun” (upacara pasca panen). Upacara tersebut diselenggarakan setelah mereka melaksanakan panen raya sebagai ungkapan rasa syukur kepada karuhun.

Upacara buku taun diselenggarakan pada hari Senin atau Kamis dengan menyembelih domba atau kambing dan tiap-tiap kepala keluarga membawa nasi tumpeng dan lauk pauknya. Upacara dipimpin oleh seorang kuncen dan dibuka dengan menyampaikan ikrar atau tindak yaitu dengan ucapan “Nyiieun cindek ngabukuan, ngaruas kasalametan, pedah tos papanenan, tina sagala hasil bumi”. Kemudian diungkapkan persembahan kepada karuhun (nenek moyang) dan diungkapkan pula permohonan agar para karuhun menjaga dan mengamankan mereka dari berbagai mara bahaya dan kejahatan. Penduduk kampung Nunuk dan kampung di sekitarnya percaya, bahwa para arwah atau leluhur dapat menjaga dan menyelamatkan mereka dari pelbagai kejahatan, penyakit, wabah, dan hama.

Dalam setiap slametan atau melaksanakaan pemujaan keramat di pimpin oleh seorang kuncen. Kuncen, selain bertugas untuk mengarahkan pelaksanaan slametan, juga menyampaikan ikror, yang pada intinya setiap ikror berisi permohonan dan persembahan kepada para arwah leluhur dan keramat yang menjadi roh pelindung warganya. Ikror yang diucapkan sebelum melaksanakan slametan yang terkait dengan buku taun, misalnya sebagai berikut:

Pun sampun kanu Maha Agung
Ka Gusti anu maha welas asih
Gusti pamuntangan beurang
Gusti pamuntangan peuting
Sajatining pati hurip
Sajatining kasucian

Pun sapun kanu Maha Agung
Ka manggung neda pa payung
Kami deuk maluruh mapay laratan carita lawa
Nyukcruk laku nu rahayu
Tapak lampah nu baheula

Pun sapun duh amit ampun
Ka Sang Agung Tirta yatra
Ka Begawat Resi Makandria
Ka Pwah Aksari jabung
Ka Sang Mani Sri

Pun sapun duh amit ampun
Ka sakur gelar karuhun
Pang numbalkeun pangnyinglarkeun
Kami sela mapay lacak
Lalakon dilalakonkeun

Pun sapun duh amit ampun
Bisina terus narutus
Palias narajang alas
Nigas catang papalingpang
Nebus bengkung kadal meuteung
Pun sapun … ampunparalun

Terjemahannya:

Minta Izin Pada Yang Maha Kuasa
Pada Tuhan Yang Maha Pengasih
Tuhan Tempat Meminta Pertolongan Pada Siang Hari
Tuhan Tempat Meminta Pertolongan Pada Malam Hari
Yang Menguasai Hidup dan Mati
Yang Menguasai Kesucian

Minta Izin Pada Yang Maha Kuasa
Minta Dilindungi
Kami Mau Menelusuri Cerita Pada Masa Lampau
Menelusuri Prilaku Yang Baik
Bekas Prilaku Zaman Dulu

Minta Izin
Kepada Sang Agung Tirta Yatra
Kepada Begawat Resi Malakandria
Kepada Pwah Aksari Jabung
Kepada Sang Manis Sri

Minta Izin
Kepada Nenek Moyang
Minta di Jauhkan Dari Segala Macam Bahaya
Kami Hendak Mencari Jejak Cerita
Cerita di Ceritakan

Meminta Ampun
Kalau Salah Langkah
Salah Dalam Berprilaku
Tidak Sesuai Dengan Jalan Yang Benar
Mohon Untuk Diampuni

Selain itu, juga ikror yang biasa diucapkan kuncen pada saat melaksanakan slametan untuk mengawali kegiatan pertanian, yaitu:

Bismillahirrahmaanirrahiim
Rokaya haturan ka indung bumi bapa langit
Abu hawa bapa Adam
Atining cai dasar ning bumi
Kaduga anu keur di kandung
Poe 7 bulan 8 taun 831
Pedah ieu anak incu bade tatanen
Nyuhunkeun dikirim hujan
Ka nu gaduh biasa cicing didieu
Anu cicing kaopat juru kalima pupuhunan
Ka Bapa Buyut Jalaksana
Buyut Kondang, Buyut Salikur
Buyut Bodas, Buyut Goong
Buyut Bayu, Buyut Dangdan
Buyut Saliyeng, Buyut Ciburakan
Buyut Bewok, Buyut Margatapa
Buyut Kipelen, Buyut Wanantara

Terjemahnya:

Bismillahirrahmaanirrahiim
Seraya selamat datang kepada ibu bumi bapak langit
Ambu hawa bapak Adam
Hatinya air dasarnya bumi
Terduga yang sedang di kandung tiga
Hari ke- 7 bulan ke-8 tahun 831
Karena anak cucu akan bercocok tanam
Meminta dikirim hujan
Kepada pemilik yang biasa diam di sini
Yang mendiami keempat penjuru kelima leluhur
Kepada Bapak Buyut Jalaksana
Buyut Kondang, Buyut Salikur
Buyut Bodas, Buyut Goong
Buyut Bayu, Buyut Dangdan
Buyut Saliyeng, Buyut Ciburakan
Buyut Bewok, Buyut Margatapa
Buyut Kipelen, Buyut Wanantara

Dalam tataran kepercayaan itu, bagi warga Nunuk setiap permohonan yang dikabulkan, mereka selalu biasa melakukan seba di tempat–tempat keramat yang pada umumnya berupa “pangjarahan” atau makam para “embah” yang berada di kampung Nunuk, yaitu: Embah Prabustika, Embah Sang Prabujaya, Embah Sugenda, atau Dipati Ukur, Embah Eyang Kaneneh, Ibu Kaneneh dan Ibu Aria, Embah Buger, Ibu Imas Introwiganda, Embah Zawi atau Maris, Embah Dalem Mangkurata, Harian Bangga, Ciung Wanara, Badugel Jaya, Embah Amisah, Embah Tangkubing Bumi, Embah Nata dan Embah Nata Kusumah.

Berdasarkan realitas keagamaan yang dianut warga komunitas tersebut menunjukkan, bahwa agama Islam yang mereka akui sebagai agamanya dalam prakteknya mereka tidak menjalankannya sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan penyerahan diri seseorang kepada Allah Subhanahuwata’ala. Lantaran itu, bagi mereka melakukan pemujaan keramat dan melaksanakan slametan justeru bermakna untuk menjawab tantangan hidup sehari-hari.

Dalam konteks ini, agama Islam yang mereka anut belum menjadi bagian dan membentuk nilai-nilai budaya dari kebudayaannya, sehingga etos agama yang wujud cenderung belum dapat memberikan jawaban untuk pemenuhan keperluan hidup mereka. Oleh karena itu, nilai-nilai yang bermakna dalam kehidupan mereka adalah etos yang wujud dari kepercayaan lokal yang terkait dengan kebudayaannya.

Itu artinya, kepercayaan lokal yang mereka anut, mereka yakini dapat menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya. Lantaran itu, kedudukan dan peranannya menjadi jelas dan setiap kondisi kehidupan yang dihadapi dan dialaminya dapat diterima secara masuk akal baginya. Salah satu dari peranannya yang jelas terlihat, adalah bahwa, dalam keadaan kekacauan dan kesukaran, kebingungan dan jiwa tertekan, kepercayaan lokal itu dapat memainkan peranan yang besar bagi individu-individu yang bersangkutan karena kepercayaan ini memberikan penjelasan dan kemudian dapat dijadikan rujukan untuk bertindak sebagai kerangka sandaran bagi ketentraman dan penghiburan hati dalam keadaan kesukaran dan kekacauan yang dihadapinya.

4.      Kesimpulan

Berkaitan dengan pemahaman kepercayaan lokal itu, menunjukkan, bahwa sebagaimana halnya agama yang mempunyai berbagai fungsi penting sebagai perwujudan dalam berbagai cara yang berbeda dalam kehidupan sosial manusia. Kepercayaan lokal ini pun mempunyai fungsi-fungsi, antara lain:

(1)    membentuk berlakunya nilai-nilai yang ada dan mendasar dari kebudayaan suatu masyarakat, yaitu etos dan pandangan hidup, yang antara lain terwujud dalam penekanannya pada bentuk kelakuan yang tepat menurut arena sosial yang ada;

(2)    menyajikan berbagai penjelasan mengenai hakekat kehidupan manusia dan lingkungan serta ruang dan waktu yang dihadapi manusia dan yang dirinya sendiri adalah sebagian dari padanya;

(3)    Kepercaayaan lokal yang mereka amalkan mempunyai peranan untuk menyatukan berbagai faktor dan bidang kehidupan ke dalam suatu pengorganisasian yang menyeluruh, yaitu dalam mitos terhadap keramat dan slametan (upacara).

Dengan demikian, dari pelbagai fungsi tersebut, dapat dinyatakan bahwa kepercayaan lokal yang mereka anut menunjukkan sebagai pembebasan atas keterpinggiran mereka dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik yang selama ini dirasakan. Adanya perbedaan perlakukan atas kehidupan itu menyebabkan mereka cenderung mengembangkan kepercayaan lokal sebagai jawaban atas marginalisasi mereka dari kehidupan yang lebih luas.

Kepustakaan

Cunningham, Clark E. 1972 “Order in the Atoni House”, dalam Reader in Comparative Religion, oleh: William A. Lessa dan Evon Z. Vogt (ed), New York: Harper & Row, pp.116-135.

Geertz, C. 1966 Religion as a Cultural System. Dalam Anthropological Approaches to the Study of Religion. (Di-edit oleh Michael Banton). London: Tavistock.

Geertz, Clifford 1973 The Interpretation of Culture, New York: Basic.

Hertz, Robert 1960 Death and the Right Hand, penerjemah: Rodney dan Claudia Needham, Cohen & West.

Koentjaraningrat 1980 Sejarah Teori Antropologi I, Jakarta: UI-Press.

Levi-Strauss, Claude 1972 Structural Anthropology, London: Penguin.

Martin van Bruinessen. 1998. Rakyat Kecil, Islam dan Politik. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Suparlan, P. 1966 Kebudayaan dan Pembangunan. Dialog, No.21, Th.11. September.

Suparlan, P. 1988 Kata Pengantar. Dalam Agama: Dalam Analisa Dan Interpretasi Sosiologis (Di-edit oleh Ronald Robertson). Diterjemahkan oleh Fediani Syaifuddin. Jakarta: Rajawali.

Turner, Victor. 1974 Dramas, Fields, and Metaphors, Ithaca: Cornell University Press.

Turner, Victor. 1967 The Forest of Symbols, Ithaca: Cornell University Press.


Disarikan dari Ade Makmur K., dkk. Studi Kehidupan Sosial Budaya dan Lingkungan Komunitas Adat Terpencil di Jawa Barat. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Unpad dan Dinas Sosial Propinsi Jawa Barat. Bandung 2002.

  

* Ade Makmur K. — Lektor Kepala pada Jurusan Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, serta Wakil Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga  Penelitian Universitas Padjadjaran.

**Makalah  dipresentasikan pada Simposium Kebudayaan Indonesia – Malaysia VIII, Tema: Pembangunan Manusia di Indonesia dan Malaysia, 8 – 9 Oktober 2002 di Kelab Rekreasi UKM, Bangi Selangor Darul Ehsan Malaysia, kerjasama antara Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan Universitas Padjadjaran (Unpad).


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: