Serentaun: Konsep, Praktek dan Makna (Sinopsis + Video)

Video ini berisi gambaran tentang ritual serentaun yang dilakukan oleh warga komunitas Kasepuhan Ciptagelar. Boleh jadi konsep, praktek dan makna serentaun belum banyak berubah, yakni memberikan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Sri sebutan lokal untuk Dewi Sri yang menjadi fokus pemujaan dalam ritual ini. Demikian pula pengungkapan rasa syukur kepada Dewi  Sri, atas hasil tanaman padi mereka yang melimpah ruah, boleh jadi  sikap ini pun belum juga berubah. Boleh jadi pula warga masih yakin, bahwa Dewi Sri, masih melindungi mereka dalam beraktivitas mengolah lahan pertanian.

Namun, menilik keramaian serentaun yang tergambarkan dalam video itu tidak kah mereka sedang menghadapi perubahan konsep, praktek dan makna serentaun. Tidak kah praktek membacok-bacokan golok ke sekujur tubuh bukan suatu praktek yang bersebrangan dengan  pemujaan kepada Dewi Sri yang serba halus? Bukan kah pula menggantung seorang anak bak seekor kambing yang sedang dikuliti dalam upacara itu suatu praktek kepongkahan yang tidak disukai Dewi Sri. Karena Dewi Sri, menyukai mereka yang rendah hati dan bersahaja. Dalam hal pengamalan elmu kawedukan (kekebalan), sudah diketahu banyak orang, bahwa warga komunitas ini memiliki kehebatan dan kekebalan tubuh yang luar biasa, tetapi kehebatan itu biasanya pula tak pernah dipertontonkan di hadapan orang banyak.

Apakah pertunjukkan yang meramaikan serentaun itu pula tuntutan pengunjung yang mengharapkan tontonan daripada mencermati setiap langkah dalam proses ritual pemujaan terhadap Dewi Sri yang penuh kesyahduan. Yang setiap detiknya disuguhkan alunan bunyi karinding dan toleot serta gemercik “rengkong”. Kesyahduan yang terpancar dari setiap alunan suara alam, untuk mengantarkan seikat-demi seikat padi ke tempat peristirahatannya, yang oleh mereka disebut “leuit si jimat”.

… ngamitkeun ieu Sri Pohaci Purnama Alam Sajati, dumeh geus nepi kana bukuning taun, parantos kana mangsaning bulan, nu ngumprang ngumbara di alam dunya, ayeuna geura marulih ka gedong si Ratna Inten”.

Itulah, perlakuan yang diberikan pada setiap bulir padi, dengan perlakuan yang begitu tertib, sopan dan tak ada tingkahlaku yang terkesan kasar dan keras. Perlakuan itu, semestinya juga berlaku dalam memperlakukan setiap insan manusia, tidak seperti kesan adegan demi adegan yang mempertontonkan ketajaman golok dan lecutan cabuk yang keras. Namun dari tayangan itu apa yang tersirat, tentunya, simpulan dari video yang akan anda saksikan ini boleh jadi beragam. Karena itu pula simpulannya adalah anda lah yang menyimpulkan. (Tim KAT Tahun 2007. Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat: Asep Rahmat, Dedi Hidayat & Ade Makmur K.)

One Comment to “Serentaun: Konsep, Praktek dan Makna (Sinopsis + Video)”

  1. Kalintang bingahna abdi tiasa mendak situs bapa anu kalintang seueur mangpaatna kanggo abdi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: