Integrasi Nasional di Indonesia: Satu Pemikiran ke Arah Kebijakan Kebudayaan

Pendahuluan. Indonesia sebagai sebuah negara dalam realitasnya terpisah pada beberapa bagian dan tingkatan, dari segi geografis dipisahkan oleh lautan dengan beratus-ratus pulau besar dan beribu-ribu pulau kecil. Kadangkalanya banyak pulau yang belum diberi nama, bahkan belakangan ini dua pulau yang berada di kawasan Kalimantan telah menjadi milik Negara Malaysia. Dari perspektif kewilayahan tampak pembagian Indonesia Bagian Timur dan Indonesia Bagian Barat, atau kawasan perkotaan dan perdesaan.

Realitas itu menyebabkan pula kewargaan penduduk Indonesia berbeda-beda dari segi kebudayaan. Pengelompokkan kewargaan serupa itu diwujudkan dalam satuan-satuan etnik. Menurut kajian Hildred Geetz (1963), terdapat 300 kelompok etnik dan 250 jenis bahasa. Yang setiap kelompok etnik itu memiliki identitas kebudayaan sendiri, termasuk di dalamnya bahasa-bahasa yang digunakannya.

Paling tidak menurut Koentjaraningrat (1971), dari keanekaragaman itu dapat dikategorikan atas 6 tipe sosial budaya masyarakat Indonesia, yaitu:

  1. Masyarakat yang mata pencahariannya didasarkan kepada sistem berkebun yang amat sederhana, dengan keladi dan ubi jalar sebagai tanaman utamanya dalam gabungan dengan berburu dan meramu, sedangkan azas kemasyarakatnnya adalah berupa desa terpencil tanpa diferensiasi dan stratifikasi sosial yang tegas.
  2. Masyarakat perdesaan yang mata pencahariannya berazaskan kepada bercocok tanam di ladang atau sawah dengan padi sebagai tanaman utama, sistem dasar kemasyarakatan adalah komunitas petani, sebagai kesatuan masyarakat petani. Selain itu, masyarakatnya berorientasi kepada arah kehidupan kota, karena masyarakat seperti ini merasa dirinya sebagai bagian dari suatu kebudayaan yang lebih besar, yaitu kebudayaan kota, dari keadaan itu terwujud suatu peradaban kepegawaian atau pekerja yang diperkenalkan oleh para misionaris dan zending, atau penyebar agama dan gelombang pengaruh agama Islam tidak dialaminya.
  3. Masyarakat perdesaan yang berazaskan kepada pencaharian di ladang atau sawah dengan padi sebagai tanaman utama, orientasi pada masyarakat kota yang mengarahkan segala perhatiannya untuk mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan dagang, pengaruh kuat dari agama Islam bercampur dengan peradaban kepegawaian atau pekerja yang diperkenalkan oleh sistem pemerintahan kolonial.
  4. Masyarakat perdesaan yang berazaskan mata pencaharian bersawah dengan padi sebagai tanaman utama; sistem kemasyarakatan sebagai komunitas petani yang diikuti oleh makin berperannya diferensiasi dan stratifikasi sosial yang rumit. Masyarakat ini mewujudkan suatu peradaban bekas kerajaan pertanian yang bercampur baur dengan peradaban kepegawaian, atau pekerja, yang diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial. Dalam masyarakat seperti itu gelombang pengaruh kebudayaan asing telah dialaminya, bahkan turut pula mempengaruhi kebudayaannya.
  5.  Masyarakat kekotaan, yang bercirikan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, dalam masyarakat ini semua kebudayaan asing amat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakatnya.
  6. Masyarakat metropolitan, yang berazaskan kepada kehidupan perdagangan dan industri, sehingga semua kehidupan masyarakatnya bersandar kepada aktivitas perdagangan dan industri, sebagian masyarakat itu diwarnai oleh kehidupan pemerintahan dengan jumlah aparat pemerintahan yang banyak serta berbaur dengan kesibukan politik. Di dalam masyarakat metropolitan seperti itu banyak pula orang yang berasal dari luar negara, atau orang asing.

Apabila tahun 1971, Profesor Koentjaraningrat membagi masyarakat Indonesia dalam 6 tipe sosial budaya, sebagai perwujudan keanekaragaman itu, atau dilakukan jauh sebelumnya menurut pengelompokkan yang berazaskan kepada 19 daerah hukum adat, maka tahun 1985-1993 sebagai dasar dari keanekaragaman itu diwujudkan dalam 3 golongan suku-bangsa (Koentjaraningrat, 1993; J. Garna, 1993), yaitu: (1) suku-bangsa; (2) keturunan asing; dan (3) masyarakat terasing yang kini dikenal dengan sebutan komunitas adat terpencil. Kelompok suku-bangsa menunjukkan bahwa semua suku-bangsa yang memiliki daerah asal di dalam wilayah Indonesia, seperti suku-bangsa Minangkabau, Jawa, dan Sunda. Lain halnya dengan keturunan asing, kelompok masyarakat yang dianggap tidak memiliki daerah asal di Indonesia, karena daerah asal mereka berada di luar negeri (Cina, Arab, dan India). Golongan masyarakat yang ketiga, masyarakat terasing, adalah mereka yang dianggap penduduk yang masih hidup dalam tahap kebudayaan sederhana, dan biasanya masih bertempat tinggal dalam lingkungan hidup yang terisolasi.

Hal tersebut merupakan pembelahan penduduk secara makro. Namun, jika ditinjau lebih mikro lagi, maka akan wujud pemisahan kepada kelompok yang lebih kecil lagi. Pemisahan yang didasarkan pada dialek, tempat asal dan ikatan sosial yang merujuk pada kesamaan kepentingan ekonomi, keyakinan, dan bahkan kerabat, belum lagi keanekaragaman penduduk Indonesia itu dilihat dari agama, maka akan dijumpai agama dunia yang diakui pemerintah dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu, bermakna bahwa, dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari segi kebudayaan menunjukkan kebhinnekaan yang beragam itu tentunya memerlukan secara berterusan upaya integrasi dalam suatu kebudayaan nasional Indonesia.

Dengan demikian, tidaklah menutup kemungkinan apabila mengabaikan segi masyarakat dan kebudayaan serupa itu, maka dapat menimbulkan konflik antarsuku-bangsa dan agama seperti telah terjadi di masa-masa sebelum ini, yang berwujud pemberontakan: (1) Republik Maluku Selatan; (2) kelompok gerilyawan Bugis, atau dikenal sebagai peristiwa Kapten Andi Azis; (3) Darul Islam di Jawa Barat, yaitu gerakan keagamaan yang bertujuan membentuk negara yang berazaskan Islam; (4) Darul Islam di Sulawesi Selatan; (5) Darul Islam di Kalimantan Selatan (6) Darul Islam di Aceh; (7) Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat; dan (8) Permesta di Sulawesi Selatan. Meski menurut Karl D. Jackson (1990), ideologi Islam kurang terbukti sebagai sumbu ledak pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat.

Pembelahan penduduk Indonesia juga dapat ditimbulkan oleh adanya pelapisan sosial, maka akan wujud dalam masyarakat strata atas, menengah dan strata bawah. Masyarakat berpendidikan dan tidak berpendidikan, atau masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Pembelahan sosial dan budaya serupa itu, menunjukkan bahwa Bangsa Indonesia memang penduduknya beragam dengan segala ciri-ciri dan sifat-sifatnya yang dapat memberikan kesan ke atas suasana gejolak kehidupan sosial. 

Tidak dapat dipungkiri lagi segala implikasi dari keberagaman itu, seringkali menjadi duri penghalang kepada berlangsungnya integrasi nasional. Bahkan belakangan ini, hampir setiap hari disuguhkan oleh pelbagai media massa baik elektronik maupun cetak tentang berita dan tayangan mengenai konflik antar kelompok kepentingan, etnik, dan agama. Dalam konteks itu, pada masa pemerintahan Orde Lama ada kata baku yang ditabukan untuk diucapkan atau dinyatakan oleh setiap Warga Negara Indonesia, yaitu SARA. 

Padahal realitas sosial dan budaya seperti itu, jika hanya dijadikan kata tabu dan dinyatakan tidak perlu dipertentangkan lagi, justru akan bercorak centrifugal. Yang bila tidak mendapat perhatian dan penanganan serius akan berakibat negatif pada kehidupan bermasyarakat di masa mendatang. Memang upaya ke arah wujudnya kebudayaan nasional Indonesia sebagai mekanisme dan tata pergaulan kehidupan warga masyarakat terus diupayakan tetapi tidak jarang pula usaha itu mengarah pada dominasi kebudayaan.

Penyeragaman atas unsur-unsur kebudayaan telah menjadi ciri di negeri ini, sebut saja misalnya dalam hal pangan, beras menjadi makanan pokok bangsa ini, pakaian, bentuk dan model arsitektur rumah dan bangunan menjadi pemandangan yang serupa yang dapat dilihat pada setiap daerah di wilayah Indonesia. Belum lagi penyeragaman tata pemerintahan dan sejarah nasional yang mengabaikan sejarah lokal. 

Upaya penyeragaman kebudayaan dengan cara dominasi satu kebudayaan terhadap kebudayaan lainnya seperti yang telah dilakukan selama ini, tampaknya dimaksudkan agar tercapai persatuan bangsa yang terintegrasi dalam tataran nasional. Padahal hakekat integrasi nasional dalam takaran sosio-antropologis mencakup arena yang lebih luas dan tidak sekadar untuk penyelesaian sekitar konflik sosial yang berlatar etnik. Sebab, seperti telah dikemukakan di atas bahwa pemisahan dan pembelahan sosial yang berlangsung di Indonesia wujud dalam pelbagai bentuk dan tingkat. Itu artinya, penyelesaian melalui penyeragaman kebudayaan atas nama kebudayaan nasional, seperti yang selama ini dilakukan justru dapat menimbulkan ancaman disintegrasi.

KAWAN MENJADI MUSUH BUKAN UPAYA DARI MUSUH MENJADI SAHABAT

Kebijakan kebudayaan dalam konteks integrasi nasional bukan berarti tidak pernah dikenal dalam peta politik di Nusantara, karena pemerintah kolonial Belanda tatkala menguatkan kekuasaannya di Nusantara tempo dulu, menempatkan semua jabatan di wilayah yang paling gawat dalam kacamata mereka dipercayakan kepada ahli-ahli yang tahu tentang masyarakat dan kebudayaan setempat untuk dengan bijak (lihay?) menangani masalah politik dan sosial regional, ekonomi dan kebudayaan lokal tanpa menimbulkan pemberontakan bersenjata yang akan amat mahal harganya untuk dibasmi.

Pidato pengukuhan gurubesar J.P.B. De Josselin De Jong pada Universiteit Leiden, tanggal 24 Mei 1935 yang bertajuk ‘Kepulauan Indonesia Sebagai Lapangan Penelitian Etnologi’, salah satu bukti betapa pendekatan etnologi ketika itu amat sangat diperhatikan untuk dapat lebih mengenal dan memahami suku bangsa yang beragam di Indonesia. Pendekatan itu mendapat tempat yang utama dalam melahirkan kebijakan untuk meneguhkan kewibawaan kolonial melalui penelusuran Nusantara sebagai ethnologisch studieveld.

Profesor De Josselin De Jong, mengungkapkan dua konsep untuk dapat memahami masyarakat di Nusantara, yaitu:

Pertama, menganggap seluruh Kepulauan Indonesia itu sebagai suatu lapangan penelitian etnologi, melalui konsep itu dimaksudkan satu daerah di mana tersebar banyak kebudayaan yang beranekawarna bentuknya, tetapi yang semuanya mengundang perhatian akan betapa sifat dasar itu cukup konsisten, sehingga dapat dilakukan suatu metode perbandingan antara masyarakat-masyarakat yang memiliki sifat-sifat dasar yang sama.

Kedua, konsep mengenai pendiriannya tentang sifat dasar yang secara konsisten melandasi semua aneka warna masyarakat dan kebudayaan yang tersebar di seluruh Nusantara, dan sekaligus merupakan prinsip-prinsip inti susunan dari bentuk masyarakat Nusantara. Karena itulah, melalui pendekatan tersebut, diupayakan penguasaan wilayah atau perluasan teritorial dengan cara “aman”.

Demikian juga halnya tentang Aceh, bukan dilakukan oleh Jenderal Koehler, atau Jenderal-Mayor Deijkerhof yang mengenalkan strategi mengalahkan orang Aceh oleh orang Aceh, melainkan dilakukan oleh seorang bukan militer, yaitu DR Snouck Hurgronje, seorang etnolog yang paham betul masyarakat dan kebudayaan Aceh, sehingga dengan pemahamannya itulah dapat menentukan operasi Jenderal van Heutz mempasifikasi Aceh dalam kesatuan Hindia Belanda. Sederetan daftar keberhasilan pemerintahan kolonial dalam menerapkan kebijakan kebudayaan untuk mengembangkan kekuasaan di Nusantara yang tidak menimbulkan banyak gejolak, sehingga tidak harus dibayar mahal. Itu artinya, pemerintahan kolonial menempatkan musuh menjadi sahabat sebagai strategi kebudayaannya.

Bagaimana dengan pelaksanaan program pembangunan di Indonesia yang dalam hal ini melaksanakan amanat rakyatnya untuk mengintegrasikan bangsa pada tataran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tampak cenderung tidak memperhatikan masyarakat dan kebudayaan. Coba lihat ada kelaparan penduduk di Papua, dan di tempat-tempat lain yang amat sangat tergantung pada pemenuhan kebutuhan pokok dari Jakarta.

Padahal wilayah ini secara kasat mata alamnya telah menyediakan melimpah keperluan mereka, dan bukan itu saja, adanya kematian ratusan penduduk asli yang bukan sekadar berita, tetapi suatu kenyataan yang dijumpai di Mapanduma dan Timika, penyelesaian Timor Timur yang kemudian menjadi Timor Loro Sae, peristiwa Sangau Ledo di Kalimantan Barat, dan kerusuhan di Sampit Kalimantan Tengah. Perseturuan yang cenderung tiada henti di Ambon dan Maluku, atau kerusuhan lainnya di pelbagai kota di Indonesia dan keinginan berbagai daerah membentuk provinsi dan kabupaten atau kota sendiri yang lepas dari provinsi atau kabupaten/kota induknya, dan bahkan kecenderungan hendak melepaskan diri dari ikatan NKRI.

Semuanya itu tidaklah dapat dilepaskan dari berbagai kebijakan pembangunan yang mengabaikan kebudayaan, dan dari pemahaman serta keinginan membentuk kebudayaan Indonesia sebagai wahana pengintegrasian bangsa. Kebijakan pembangunan yang selama ini memang untuk memperbaiki taraf hidup dan kesejahteraan manusia, hanya sayang bahwa dalam hal ini, orang sering lupa, yaitu manusia manakah yang dimaksud. Dalam lingkup Indonesia dengan berbagai macam kebudayaan – masalah ini menjadi masalah yang sangat perlu diperhatikan. Apa yang dianggap sebagai hidup yang baik oleh orang Sunda tidak selamanya cocok bagi orang Bugis atau Batak; apa yang dipandang menguntungkan oleh orang Minangkabau atau Padang tidak selamanya demikian bagi orang Jawa atau Bali; atau apa yang bernilai bagi orang Melayu belum tentu bernilai bagi orang Banten.

Dalam konteks itu, persoalan integrasi untuk siapa menjadi sangat penting diperhatikan, artinya, kita tidak dapat mengunakan ukuran yang ada pada sistem nilai kita saja, yang biasa menjadi ukuran penentu kebijakan itu. Apakah untuk ukuran baik-buruk, bahagia-celaka atau untung-rugi. Bagaimana pun juga kita perlu memahami betul nilai-nilai yang ada pada masyarakat agar tujuan bernegara tercapai dan sesuai dengan nilai yang ada pada masyarakat itu.

Dengan pemahaman ini, strategi kebudayaan dapat ditentukan dari pandangan atau pemikiran yang ada pada masyarakatnya, sehingga langkah yang akan ditentukan itu mengikuti realitas sosial-budaya yang dihadapi masyarakat. Kematian akibat kelaparan seperti yang terjadi di Papua tidak bakalan terjadi, manakala pengenalan beras sebagai makanan pokok mereka di-introduksi melalui teknik bercocok tanam yang sesuai dengan tuntutan lingkungan alam mereka sendiri. Bukan kebijakan yang dipaksakan untuk penyeragaman makanan pokok bangsa Indonesia.

Demikian juga pelbagai kasus lainnya di Indonesia yang sekarang muncul kepermukaan yang dikemas politik, tetapi jika dikaji lebih mendalam lagi persoalannya ialah kebudayaan masyarakat diabaikan. Artinya, kebijakan yang diterapkan selama ini menempatkan sahabat menjadi musuh atau kawan menjadi lawan. Integrasi menjadi disitegrasi, sehingga mengarah pada terpecahnya NKRI, serta keinginan yang berbasis masyarakat lokal untuk menjadikan negara-negara bagian pada satuan-satuan wilayah kebudayaan suku-bangsa

Semua itu, akibat menempatkan kebijakan pembangunan yang selama ini diterapkan seolah-olah telah memperhatikan sisi kebudayaan masyarakat lokal. Lebih jauh lagi, sering dinyatakan, bahwa kebijakan itu sudah sejalan dengan aspirasi warga masyarakat serta sudah memenuhi semua ketentuan hukum yang diwujudkan dalam takaran politik nasional berbungkus ketetapan MPR dan Perundang-undangan, seperti halnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Padahal kebijakan-kebijakan tersebut merupakan politik penyeragaman kebudayaan tanpa memperhitungkan keragaman budaya suku-bangsa yang ada di Indonesia. Itu artinya, selama 30 tahun telah berlangsung pengingkaran atas semangat Bhinneka Tunggal Ika. 

Dari sisi ini menunjukkan kepada kita bahwa politik penyeragaman kebudayaan yang dikemas dalam selimut kebudayaan nasional itu kini mulai digugat banyak pihak, sehingga terciptalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dikenal dengan istilah Otonomi Daerah. Semangat otonomi yang sedemikian deras telah melahirkan sikap dari berbagai daerah ingin melepaskan diri dari kekuatan kekuasaan pusat atau provinsi, seperti halnya yang dahulu dikenal sebagai Wilayah Keresidenan Banten, kini telah menjadi provinsi tersendiri lepas dari Provinsi Jawa Barat, demikian juga provinsi-provinsi lainnya yang baru terbentuk selepas pemberlakuan undang-undang tersebut. Bahkan tidak dapat dinafikan kecenderungan warga masyarakat lokal yang terikat oleh kebudayaan dalam satuan provinsi tumbuh keinginan melepaskan diri dari NKRI. Akhir-akhir inipun tumbuh suatu sikap menentang dari orang-orang daerah atas keputusan pusat. Misalnya, kepemilikkan PT. Semen Padang di Sumatera Barat dan penolakan terhadap apa-apa yang telah diputuskan Jakarta (orang pusat), seperti yang terjadi pada PDI-Perjuangan di Provinsi Lampung, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Bali.

Tentunya, realitas sosial-budaya yang berkembang itu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Sebab, kenyataan yang berkembang itu dapat menimbulkan banyak persoalan yang wujud sebagai akibat meningkatnya sentimen kemasyarakatan yang didasarkan pada semakin menebalnya rasa kesukubangsaan di setiap daerah, terutama pada tataran daerah kabupaten dan provinsi di seluruh Indonesia.

PENUTUP: ARAH KEBIJAKAN KEBUDAYAAN SEBAGAI TUNTUTAN MASYARAKAT LOKAL

Atas dasar pemahaman gejala empirik tersebut, menunjukkan kebijakan pembangunan yang dahulu dikenalkan pemerintah melalui Repelita dan kini melalui Propenas lebih menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dalam skala nasional. Ukuran keberhasilannya adalah peningkatan pendapatan penduduk, pertumbuhan kawasan industri di setiap provinsi dan kabupaten/kota dengan kecenderungan mengabaikan kepentingan dan kebutuhan masyarakat lokal.

Kebijakan itu tumbuh sebagai upaya menjaga keutuhan negara kesatuan melalui konsep penyeragaman kebudayaan di tengah-tengah keragaman masyarakatan dan keanekaragaman kebudayaan. Untuk itu, pembangunan kebudayaan diarahkan pada menghilangkan struktur kekuasaan lokal dengan kekuasaan birokrasi pemerintahan melalui pelbagai kebijakan seperti yang tertulis dalam dokumen GBHN-GBHN yang lalu, yaitu peningkatan manajemen pembangunan nasional yang terpadu dan tetap bertumpu pada stabilitas nasional serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Kebijakan hampir serupa pun tersirat pada Propenas 2001 – 2005. Malah dengan kebijakan seperti itu menambah semakin dipertajam pembelahan sosial-budaya dalam tataran sektor modern dan sektor tradisional. Yang mungkin tidak disadari oleh para penentu kebijakan bahwa adanya ciri-ciri dan sifat-sifat bangsa Indonesia yang beragam.

Dalam Propenas tersebut, menggambarkan bahwa wujud sektor modern terbentuk oleh penggunaan modal yang banyak, sehingga dianggap lah sektor ini akan banyak mendapat hasil dibandingkan sektor tradisional yang dianggap tidak produktif dan terbelakang. Pengkategorian ini sebenarnya dari sisi ide dan teori, adalah berdasarkan pendekatan teoretis yang dikenal sebagai dualisme, yang biasa digunakan oleh negara-negara Dunia Ketiga dalam menggambarkan situasi sosio-ekonominya.

Teori dualisme ini mengandaikan bahwa dalam suatu negara yang sedang melaksanakan pembangunan selalu akan wujud dua bagian atau sektor yang berbeda tingkat atau taraf kemajuannya. Oleh penganut teori ini, diandaikan bahwa sektor modern lebih maju teknologinya, lebih kaya dengan modal dan lebih tinggi taraf institusi yang wujud di dalamnya. Sebaliknya, sektor tradisional yang selalu dikaitkan dengan kemunduran dari segi teknologi, tanpa modal dan institusinya pun terbelakang.

Dalam konteks itu, hubungan antara sektor modern dan tradisional terpisah yang seolah-olah berjalan sendiri-sendiri tanpa suatu ikatan yang saling menunjang. Itu artinya, antara sektor modern dan tradisonal tiada keterpaduan yang diarahkan kepada jalinan saling menguntungkan. Imbas dari keadaan itu menunjukkan masyarakat dan kebudayaan yang terbentuk oleh situasi tersebut menjurus pada tingkat kehidupan sosial dan budaya yang berbeda satu masa lainnya. Masyarakat pendukung sektor modern semakin maju dan berkembang, sedangkan yang keadaan masyarakat satunya lagi semakin terpuruk dan tertinggal oleh perkembangan dunia modern.

Dari segi ini dilema etnisitas menjadi pemicu bangkitnya solidaritas etnik. Karena itu, seringkali terdengar, bahkan sudah biasa dianjurkan, bahwa persatuan etnik atau suku-bangsa itu sangat diperlukan untuk mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Manurut pendapat dan anjuran itu, menunjukkan bahwa persatuan etnik sudah seharusnya dicapai terlebih dahulu sebelum dicapai persatuan nasional. Hal ini, berarti bahwa persatuan etnik dilihat sebagai satu syarat mutlak untuk mencapai persatuan nasional, kemudian timbul masalahnya ialah apakah pendapat ini bernar?

Perbedaan pendapat terhadap pembenaran demikian tentulah tidak dapat dikesampingkan, malahan menjadi hal yang utama, ada suatu anggapan pula bahwa dengan terlalu menekankan etnisitas dan membangkitkan perkembangan perasaan kesuku-bangsaan akan menghambat komunikasi di antara warga-warga dari etnik yang berbeda. Selain itu, juga pada suatu negara yang wujud dengan perasaan solidaritas etnik yang padu dan kuat, justru akan membangkitkan masyarakatnya untuk menyatupadukan perasaan ketidakpuasan dan tuntutan politik mereka dengan mengikut garis etnik.

Mereka menyadari bahwa apa pun tindakan politik, tidak akan bermakna dan berkesan apabila tidak dikaitkan dengan kepentingan etnik. Hal ini berarti akan memperkuat lagi perasaan permusuhan, prasangka sosial-budaya dan ketegangan sosial di antara etnik-etnik pada akhirnya dapat memusnahkan kesadaran tentang pengalaman bersama yang mutlak diperlukan dalam kehidupan bernegara.

Kesimpulannya, masalah kebijakan kebudayaan yang terkait dengan integrasi nasional menjadi penting direnungkan kembali setelah sekian puluh tahun masyarakat di Indonesia menjalani kehidupan bernegara. Dalam konteks untuk mencari dasar persatuan melalui gejala empirik tentang: (1) pengentasan kemiskinan tanpa membeda-bedakan etnik; (2) ketidakseimbangan capaian ekonomi di antara etnik dan menghilangklan kesan monopoli terhadap kegiatan ekonomi serta penguasaan penghunian kawasan tempat tinggal oleh suatu golongan atau etnik tertentu; (3) kebebasan dan hak azasi individu yang dijamin dalam perlembagaan; (4) sistem pendidikan diperankan sebagai agen sosialisasi untuk memupuk kepribadian dan kesadaran berbangsa; dan (5) peranan Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi juga melahirkan satu identitas kebangsaan

DAFTAR PUSTAKA

De Josselin De Jong, J.P.B. 1971. Kepulauan Indonesia Sebagai Lapangan Penelitian Etnologi. Seri Terjemahan Karangan-karangan Belanda Kerjasama antara LIPI dan KITLV. Jakarta: Bhratara.

Garna, Judistira K. 1993. Pengajian Masyarakat Terasing Dalam Konteks Masyarakat Indonesia. Dalam Hood Salleh et al (Penyunting). Mereka Yang Terpinggir Masyarakat Terasing di Indonesia dan Orang Asli di Malaysia. Bangi: Jabatan Antropologi dan Sosiologi Universiti Kebangsaan Malaysia.

Garna, Judistira K. 2001. Pendekatan Etnografi Ke Arah Kebijakan Kebudayaan Dalam Perkembangan Peradaban Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar di Universitas Padjadjaran.

Garna, Judistira K. dan Ade Makmur K., 1999. Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Suatu Renungan Pembentukan Indonesia Merdeka Ke Arah Kebudayaan Kebangsaan. Bandung: Primaco Akademika.

Geetz, Hildred. 1963. The Javanese Family: A Study of Kinship and Socialization. Glencoe: The Free Press.

Jackson, Karl D. 1990. Kewibawaan Tradisional, Islam, dan Pemberontakan: Kasus Darul Islam Jawa Barat. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Koentjaraningrat. 1971. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Aksara Baru.

Koentjaraningrat. 1993. Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

8 Responses to “Integrasi Nasional di Indonesia: Satu Pemikiran ke Arah Kebijakan Kebudayaan”

  1. Mohon izin untuk mengkopi artikel ini untuk keperluan pembelajaran di kelas sosiologi SMAN 3 Yk. Terimakasih.

  2. saya mau nanya . 3 syarat negara agar integrasi bisa tercapai ? terimakasih

  3. Mohon ijin mencopy artikel ini untuk keperluan tesis

  4. I think that is one of the so much vital information for me.
    And i am glad studying your article. But wanna remark on some normal things,
    The web site style is ideal, the articles is truly excellent : D.
    Excellent task, cheers
    Sherrie

Trackbacks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: