Profil Bloger

Blogs ini semata-mata didedikasikan kepada Prof. Dr. R.M. Koentjaraningrat (Alm), Prof. H. Judistira K. Garna, Ph.D, dan Prof. Dr. H.M. Dahlan (Alm), karena ketiga Gurubesar inilah, pengetahuan mendalam tentang masyarakat yang dikategorikan banyak orang sebagai terpinggir diperoleh. Ade Makmur K. diperkenalkan oleh ketiga Gurubesar tersebut kepada kehidupan masyarakat terpinggir, agar dapat bertutur dan menuturkan apa-apa yang diketahui dan dijalankan dalam kehidupan mereka, tanpa menambah, mengurangi atau bahkan memprovokasi kehidupannya. 

Titik-tolak pergumulan untuk pengembangan keilmuan yang menjurus kepada keahlian yang saya gumuli ini dalam bidang Antropologi, diawali oleh arahan Prof. Dr. RM. Koentjaraningrat, pelopor sekaligus Bapak Antropologi Indonesia. Arahan Beliau, bagi saya merupakan anugerah sekaligus menyadarkan saya, bahwa perhatian kepada masyarakat yang masih dikategorikan terpinggir atau dalam bahasa pembangunan ketika itu dikenal dengan sebutan “masyarakat terasing” masih terbilang sedikit.

Prof. Dr. RM Koentjaraningrat, Gurubesar Antropologi Universitas Indonesia, memilih saya seorang sarjana Antropologi lulusan Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, yang sangat minim dan kecil dalam pengalaman harus bergabung dengan Beliau yang berwibawa sebagai seorang tokoh besar Antropologi Indonesia. Ibarat langit dan bumi jauhnya, itulah perumpamaan saya. Saya takut untuk bergabung, karena saya terlalu kecil, kalaupun saya mengenal Beliau itu pun dari jauh hanya melalui karya-karya Beliau, hanya membaca dan memahami keluasan dan kehebatan cakrawala Antropologi Beliau. Tiba-tiba saya harus berhadapan dan berbicara, berargumentasi dan menulis pengetahuan saya tentang masyarakat yang dikategorikan terasing itu.

Ketika itu, tahun 1992, saya diundang Beliau untuk bergabung dalam rangka penyusunan buku. Saya diminta menyumbangkan dua tulisan, yang pertama Orang Tajio di Sulawesi Tengah dan yang kedua Orang Punan di Kalimantan Barat. Tulisan pertama merupakan tulisan yang berasal dari skripsi Sarjana Antropologi, sedangkan tulisan kedua khusus ditulis untuk kepentingan buku tersebut. Awal tahun 1993, buku yang disunting Prof. DR. RM. Koentjaraningrat di bawah judul Masyarakat Terasing Di Indonesia  yang diterbitkan oleh PT Gramedia diluncurkan ke khalayak. Dalam buku itu, saya menulis dua bab, yaitu: (1) Bagian 5 Masyarakat Punan di Kalimantan Barat (halaman 100 – 119); dan (2) Bagian 8 Masyarakat Tajio di Toribulu, Sulawesi Tengah (halaman 180 – 194).

Peneguhan minat serupa itu dilengkapi pula oleh Prof. Judistira K Garna (UNPAD), yang telah mengajarkan kehidupan sebagai seorang peneliti yang perlu sabar, kritis, tekun serta tidak mudah menyerah oleh keadaan. Semua itu dialami ketika dipercaya Beliau mengkaji kehidupan warga masyarakat Desa Kanekes, yang dikenal umum sebagai orang Baduy. Selain pengalaman metodologis yang diperoleh dari Beliau, juga pengalaman memaknai liku-liku kehidupan nyata ini. Pengetahuan keilmuan yang telah ditempa oleh Kedua Gurubesar tersebut, disempurnakan lagi oleh Prof. H.M. Dahlan (UK Malaysia), Beliau telah membuka matahati dan melebarkan cakrawala pengetahuan teoretik dengan tempaannya yang keras dan sistematis, serta mengajarkan pelbagai pendekatan filosofis untuk mengkritik dan memperdebatkan secara akademik teori-teori yang lahir kian deras dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam perjalanan pengembangan keilmuan yang saya jalani sampai saat ini, saya telah menyelesaikan banyak penelitian, baik yang dibiayai oleh Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (UNPAD) maupun yang dibiayai oleh lembaga di luar UNPAD seperti World Bank, Departemen Sosial RI, Pupuk Kalimantan Timur Tbk, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM-RI) khususnya Direktorat Obat Asli Indonesia (OAI), serta Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum. Bagi saya karya ilmiah tidak akan menjadi bermakna kalau hanya menjadi hiasan rak buku di perpustakaan atau hanya untuk pemenuhan kepangkatan saja, dan untuk mengejar jabatan akademik saja.

Ada hal yang jauh lebih penting lagi. Hal itu, bagi saya, adalah sebuah karya akan menjadi bermakna kalau dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Terlebih lagi bila karya tulis itu bukan hanya dibaca, tetapi juga mampu menginspirasi dan menggagas pembaca untuk penulisan yang lebih mendalam demi menggali pengetahuan di negeri ini. Harapan saya adalah melalui karya-karya yang dihasilkan ini saya ingin berbagi yang terbaik, meski untuk itu saya masih terus menggapainya. Dalam konteks itu, satu-satunya yang saya inginkan adalah eksistensi saya ada di karya-karya saya. Untuk itulah, blogs Bukitpadjadjaran69 wujud bagi Anda.  

%d blogger menyukai ini: